Thursday, May 9, 2019

Pengertian Komunikasi Sosial


A.    Definisi Komunikasi Sosial
Pengertian komunikasi ditinjau dari pengertian komunikasi dalam pengertian secara umum. Komunikasi sosial secara umum adalah setiap orang yang hidup dalam dan masyarakat, sejak bangun tidur sampai tidur lagi, secara kodrati senantiasa terlibat dalam komunikasi. Masyarakat paling sedikit terdiri dari dua orang yang saling berhubungan satu sama lain dan hubungannya menimbulkan Interaksi sosial.
Pengertian komunikasi sosial tidak hanya diartikan menurut astrid saja tetapi ada pengertian lain yang menyebutkan bahwa komunikasi yang tidak semata-mata hanya terkait tentang media massa dan teknologi tetapi lebih mengarah pola interaksi manusia dalam masyarakat atau sebuah kelompok.
Menurut Muzafer Sherif komunikasisosial adalah suatu kesatuan sosial yang terdiri dua atau lebih individu yang telah mengadakan interaksi sosial yang cukup intensif dan teratur,sehingga diantara individu itu sudah terdapat pembagian tugas, struktur, dan norma-norma tertentu.
Bahwa norma-norma sosial dalam kehidupan masyarakat merupakan bentuk peraturan tak tertulis yang berfungsi sebagai peraturan sikap dan prilaku manusia dalam pergaulan hidup sehari-hari dalam masyarakat. Norma sosial relatif banyak menekankan padasanksi moral sosial sebagai unsure pengawasan terhadap sikap dan prilaku manusia dalam pergaulan tersebut.
Mensejajarkan komunikasi sosial dengan komunikasi manusia (human communication)seperti yang diartikan Rubena dan Steward. Ini karena keduanya mempunyai kesamaan fungsi, yakni beradaptasi dengan lingkungan satu sama lain atau integrasi sosial. Menurut Ruben dan Steward bahwa komunikasi manusia adalah proses yang melibatkan individu-individu dalam suatu hubungan antar individu, kelompok, organisasi dan masyarakat yang merespon dan menciptakan pesan untuk beradaptasi dengan lingkungan satu sama lain.Maka komunikasi sosial adalahadalah suatu proses interaksi antar seseorang atau suatu lembaga melalui menyampaikan pesan dalam rangka untuk membangun integrasi atau adaptasi sosial.

B.    Fungsi Komunikasi Sosial
Fungsi komunikasi sebagai komunikasi sosial setidak nya mengisaratkan bahwa komunikasi penting untuk membangun konsep diri kita, untuk kelangsungan hidup, untuk memperoleh kebahagiaan, terhindar dari tekanan dan ketegangan antara lain lewat komunikasi yang menghibur dan memupuk hubungan dengan orang lain melalui komunikasi kita bekerja sama dengan anggota masyarakat(keluarga, kelompok belajar, perguruan tinggi, Rt,Rw,desa, dan Negara secara keseluruhan) untuk mencapai tujuan bersama.
Fungsi komunikasi untuk menyampaikan informasi yaitu ditujukan untuk menyampaikan informasi kepada khalayak agar dapat menambah wawasan. Komunikasi memberikan pendidikan yang bermanfaat secara formal maupun informal. Komunikasi untuk menghibur seperti pada saat sekarang ini yang sedang populer adalah Standup Comedy. Komunikasi digunakan untuk mempengaruhi seseorang agar menuruti apa yang diinginkan oleh komunikator seperti pada iklan, kampanye, membentuk opini public, dan  meyakinkan informasi yang sudah diberikan.
C.   Komponen Komunikasi Sosial
Komunikasi sosial sejajar dengan komunikasi manusia (human communication)  yang di dalamnya terdapat  proses komunikasi yang melibatkan antar individu kelompok dan organisasi salah satu bentuk komunikasi sosial:
1.    Komunikasi Interpersonal
Pada hakikatnya komunikasi interpersonal adalah komunikasi antara komunikator dengan komunikan. Komunikasi ini paling efektif menggubah sikap pedapat atau prilaku seseorang. Komunikasi antar pribadi bersifat arus balik terjadi lansung , komunikator dapat mengetahuisecarah pasti apakah komunikasi nya berhasil atau tidak dan apakah komunikan merespon pesan yang di sampaikan oleh komunikatornya.
a.    Definisi Komunikasi Interpersonal
ü  De Vito komunikasi interpersonal adalah penyampaian pesan dari seseorang kepada orang lain/sekelompok orang dengan berbagai dampak dan peluang untuk memberikan umpan balik.
ü  supratiknya komunikasi interpersonal adalah tingkah laku verbal/ non-verbal yang ditanggapi oleh orang banyak.
ü  Effendi komunikasi interpersonal adalah komunikasi antara komunikator dengan komunikan.
ü  Liliweri komunikasi interpersonal adalah komunikasi dari mulut ke mulut yang terjadi dalam interaksi tatap muka antara beberapa pribadi.
ü  Sugiyo komunikasi interpersonal adalah sebuah komunikasi dimana orang-orang yang terlibat di dalamnya menganggap orang lain sebagai pribadi dan bukan sebagai objek yang disamakan dengan benda.
b.    Ciri-ciri Komunikasi Interpersonal
ü  Keterbukaan (openness) adanya kesediaan kedua belah pihak untuk membuka diri, saling mereaksi, saling merasakan pikiran dan perasaan.
ü  Empati, menghayati perasaan orang lain/ turut merasakan apa yang dirasakan orang lain. Kesediaan seseorang untuk masuk ke dalam perasaan, pikiran dan keinginan orang lain.
ü  Dukungan (supportive), sikap memberi dukungan kepada pihak lain agar bersedia berpartisipasi.
ü  Rasa positif (positivness) selalu berpikir positif apa  yang akan disampaikan oleh komunikan kepada komunikator.
ü  Kesamaan (equality), kesetaraan antara komunikator dengan komunikan (klien) dalam hal derajat dan kedudukan.
ü  Arus pesan cenderung two communication antara komunikator dengan komunika (dialogis).
ü  Konteks hubungan face to face relationship (tatap muka langsung) dan saling mempengaruhi serta adanya ikatan psikologis antar keduanya.
ü  Adanya feed back yang tinggi yang disebut immediate feedback (umpan balik secara langsung).
ü  Interaksi minimal antara dua orang (dyadic communication).
ü  Adanya effect (disengaja maupun tidak disengaja).
c.    Tujuan Komunikasi Interpersonal
ü  Belajar.
Dengan komunikasi interpersonal individu dapat mengetahui dunia luar.
ü  Berhubungan
Menjaga relasi atau interaksi berbagai perasaan.
ü  Mempengaruhi
Agar mengikuti apa yang dikemukakan komunikator.
ü  Bermain
Sebagai sarana hiburan.
ü  Membantu orang lain
d.    Komunikasi Interpersonal yang Efektif
ü  Pemahaman
Komunikasi efektif apabila memperoleh pemahaman atas pesan yang disampaikan.
ü  Kesenangan
Dalam komunikasi tercipta hubungan yang menyenangkan dan kondusif.
ü  Pengaruh pada sikap
Setelah berkomunikasi komunikan berubah sikap menjadi positif.
ü  Hubungan yang makin baik
ü  Tindakan
Komunikan melakukan tindakan sesuai yang diharapkan oleh komunikator.
e.    Sifat Komunikasi Interpersonal
ü  Melibatkan perilaku melalui pesan verbal dan non – verbal.
ü  Melibatkan pernyataan atau ungkapan yang spontan.
ü  Bersifat dinamis, bukan statis.
ü  Melibatkan umpan balik pribadi.
ü  Dipandu oleh tata aturan yang bersifat intrinsic dan ekstrinsik (menghargai, sopan adalah ekstrinsik).
f.     Unsur – Unsur Komunikasi
ü  Komunikator
Sumber, orang yang membagi informasi atau ide kepada orang lain.n Karakteristik komunikator sangat dipengaruhi oleh latar belakang (jenis kelamin, tempat tinggal, dll) dan karakteristik psikologis (motivasi, minat, dll). Dalam komunikasi interpersonal, komunikator sekaligus sebagai penerima informasi.
ü  Tujuan
Tujuan apa yang ingin dicapai.
ü  Komunikasi timbal balik
ü  Pesan
Pesan adalah segala sesuatu yang disampaikan kepada orang lain. Pesan dapat berupa verbal maupun non verbal dan dapat juga disengaja atau tidak disengaja. Ada 4 jenis pesan, antara lain verbal disengaja, verbal tidak disengaja, non verbal disengaja, non verbal tidak disengaja.
ü  Saluran
Saluran yang digunakan dalam komunikasi interpersonal secara umum adalah panca indera. Dalam proses komunikasi antar pribadi, pesan tidak akan sampai pada penerima apabila alat indera mengalami normal.
ü  Umpan Balik (feedback)
Kita dapat tahu berhasil atau tidaknya atas respon dari komunikan.
g.    Faktor – Faktor Pembentuk Komunikasi Interpersonal
ü  Perbedaan antar pribadi.
ü  Pemenuhan kekurangan.
ü  Perbedaan motivasi antar manusia.
ü  Kebutuhan akan harga diri.
ü  Kebutuhan atas pengakuan orang lain.
ü  Mengurangi kesepian.
ü  Mendapatkan rangsangan.
ü  Mendapatkan pengetahuan diri.
ü  Memaksimalkan kesenangan.
h.    Sistem Komunikasi Interpersonal
ü  Persepsi interpersonal, pemaknaan stimulus.
ü  Konsep diri, perasaan dan pandangan tentang diri kita.
ü  Atraksi interpersonal, daya tarik dan sikap positif terhadap seseorang.
ü  Hubungan interpersonal, berkomunikasi bukan sekedar menyampaikan pesan tetapi menentukan kadar hubungan interpersonalnya makin baik.
2.    Komunikasi Kelompok
Komunikasi kelompok merupakan proses komunikasi di mana ada sekumpulan dua orang atau lebih yang mempunyai tujuan bersama yang berintraksi satu sama lain dan mengangap mereka sebagai bagian dari kelompok tersebut. Meskipun setiap angota memilih peran berbeda.
Jika menurut Anwar Arifin  komunikasi kelompok adalah komunikasi yang berlangsung antar beberapa orang dalam suatu kelompok kecil seperti dalam rapat, pertemua, konvensi dan sebagainya. Namun Michael Burgon dan Michael Ruffner dalam buku teori komunikasi S.Djuarsa Sendjaja mengartikan bahwa komunikasi kelompok sebagai interaksi tatap muka dari tiga atau lebih individu guna memperoleh maksud dan tujuan yang dikehendaki seperti sebagai informasi pemeliharaan diri pemecahan masalah sehingga semua anggota dapat menimbulkan karakteristik pribadi angotalainnya dengan akurat.
Secara operasional, komunikasi kelompok melibatkan beberapa element di dalamnya, yaitu interaksi tatap muka, jumlah anggota kelompok, waktu dan tujuan yang akan dicapai, elemen-elemen ini merupakan karak teristik yang membedakan kelompok dengan apa yang di kenal. Yaitu sekumpulan orang yang secara serentak  terikat dalam aktifitas yang sama namun tampa komunikasi.
a.    Proses Komunikasi
Proses komunikasi adalah suatu rangkaian aktivitas secara terus menerus dalam kurun waktu tertentu. Dan proses dapat berlangsung lama atau panjang itu tergantung dari konteksnya. Secara umum proses yang terjadi dalam komunikasi ada dua yaitu :
ü  Proses komunikasi secara primer adalah komunikasi yang terjadi secara tatap muka, langsung antara seseorang kepada yang lain. Untuk menyampaikan pikiran maupun perasaanya dengan menggunakan simbol-simbol tertentu.
ü  Proses komunikasi secara sekunder adalah komunikasi yang dilakukan dengan menggunakan alat atau saranasebagai media kedua setelah bahasa, komunikasi jenis ini dimaksud untuk melipat gandakan jumlah penerima informasi sekaligus dapat mengatasi hambatan-hambatan geografis dan waktu. Namun dalam jenis komunikasi ini, hanya efektif untuk menyebar luaskan pesan-pesan yang bersifat informatif.
b.    Pola-Model Komunikasi
Pola atau model komunikasi adalahreppresentasi suatu fenomena, baik nyata atau abstrak, dengan  menonjolkan unsur-unsur terpenting fenomena tersebut. Model jelas bukan fenomena itu sendiri. Sebagai alat untuk menjelaskan fenomena komunikasi, model mempermudah penjelasan tersebut. Hanya saja model tersebut sekaligus mereduksi fenomena komunikasi, artinya ada nuansa komunikasi lainnya yang mungkin terabaikan dan tidak terjelaskan oleh model tersebut.
Menurut Sereno dan Mortensen, model komunikasi merupakan deskripsi ideal, mengenai apa yang dibutuhkan untuk terjadinya komunikasi. Model komunikasi mempresentasikan secara abstrak cirri-ciri penting dan menghilangkan rinciankomunikasi yang tidak perlu dalam dunia nyata. Sedangkan B.Aubrey Fisher mengatakan model adalah analogi yang mengabstraksikan dan memilih bagian keseluruhan , unsur, sifat atau komponen yang penting dari fenomena yang di jadikan model. Model adalah gambaran informal untuk mejelaskan atau menerapkan teori. Dengan kata lain, model adalah teori yang lebih disederhanakan.



ü  Model-model Komunikasi
·         Model S – R
Model stimulus-respon (S-R) adalah model komunikasi paling dasar. Model ini di pengaruhi oleh di siplin psikologi, khususnya yang beraliran behavioristik. Model tersebut mengambarkan hubungan stimulus – respon.
·         Model Aristoteles
Model aristoteles adalah model komunikasi paling klasik, yang sering juga di sebut model retoris ( rhetorical model ). Filosof yunani Aristoteles adalah tokoh paling dini yang mengkaji komunikasi. Ia berjasa dalam merumuskan model komunikasi verbal pertama. Komunikasiterjadi ketika seseorang pembicara menyampaikan pembicaraanya kepada khalayak dalam upaya mengubah sikap mereka. Tepatnya, ia mengemukakan tiga unsur dasar proses komunikasi, yaitu pembicara (speaker  ) pesan (message), dan pendengar (listen).
·         Model Lasswell
Model ini dikemukakan Harold Lasswell tahun 1948 yang mengambarkan proses komunikasi dan fungsi-fungsi yang diembannya dalam masyarakat. Lasswell mengemukakan tiga fungsi komunikasi, yaitu: pengawasan lingkungan yang mengingatkan angota- angota masyarakat yang merespon lingkungan : dan ketiga, transmisi warisan sosial dari suatu generasi ke generasi lainnya.
·         Model Shannon dan Weaver
Salah satu model awal komunikasidi kemukakan Claude Shannon dan Warren Weaver pada tahun 1949 dalam buku The Mathematical Theory of Communication. Model yang sering di sebut model matematis atau model teori informasi itu mungkin adalahmodel yang pengaruhnya paling kuat atas , model dan teori komunikasilainnya. Shannon adalah seorang insinyur pada pada  Bell Telephone dan ia berkepentingan dengan penyampaian pesan yang cermat melalui telpon. Weaver mengembangkan konsep Shannon untuk menerapkannya pada semua bentuk komunikasi.
·         Model Schramm
Wilbur Schramm membuat serangkaian model komunikasi, di mulai dengan model komunikasi manusia yang sederhana (1954), lalu model yang lebirumit yang memperhitungkan pengalaman dua individu yang mencoba berkomunikasi, hingga ke model komunikasi yang dianggep dua individu. Model pertama mirip dengan model Shannon dan Wheaver. Dalam modelnya yang ke dua Schramm memperkenalkan gagasan bahwa kesamaan dalam bidang pengalaman sumber dan sasaran lah yang sebenarnya dikomunikasihkan, karenabagian sinyal itulah yang dianut sama oleh sumber dan sasaran. Model ketiga Scharamm mengangap komunikasi sebagai interaksi dengan kedua pihak yang menyandi, menafsirkan dan menerima sinyal.
·         Model Newcomb
Theodore Newcomb (1953) memandang komunikasi dari predpektif psikologi sosial. Modelnya mengigatkan kita akan diagram jaringan kelompok yang di buat oleh para psikolog sosial dan merupakan formulasi awal mengenai konsitensi kognitif. Dalam model komunikasi tersebut yang sering juga di sebut model ABX atau model simetri Newcomb mengambarkan bahwa seseorang, A menyampaikan informasi kepada orang lainnya, B mengenai sesuatu, X . Model tersebut megansumsikan bahwa orientasi A (sikap) terhadap B dan terhadap X saling bergantungan dan ketiga nya merupakan suatu sistem yang terdiri dari empat orientasi :
v  Orientasi A terhadap X, yang meliputi sikap terhadap X sebagai objek yang harus di dekati atau dihindari dari atribut kognitif (kepercayaan dan tatanan kognitif).
v  Orientasi A terhadap B, dalam pengertian yang sama.
v  Orientasi B terhadap X.
v  Orientasi B terhadap A.
·         Model Westley dan Maclean
Tahun 1957, Bruce Westley dan Malcom Maclean, kedua nya teoritikus komunikasi, merumuskan suatu model yang mencangkup komunikasi antar pribadi dan komunikasi massa, dan memasukan umpan balik sebagai bagaian integeral dari proses komuikasi. Model Westley dan Maclean ini di pengaruhi oleh model Newcomb, selain juga oleh model Shannon dan Weaver. Mereka menambahkan jumlah pristiwa, gagasan, objek dan orang yang tidak terbatas.
Menurut dua pakar ini perbedaan dalam upan balik ini lah yang membedakan komunikasi komunikasiantar pribadi dan komunikasi massa. Dalam model Wesltley dan Maclean ini terdapat lima unsure yaitu:
objek orientasi, pesan, sumber , penerimadan umpan balik. Sumber (A) menyoroti suatu objek atau peristiwa tertentu dalam lingkungannya (X) dan menciptakan pesan mengenai hal itu (X’) yang ia kirimkan pada penerima (B). pada gilirannya, penerima menerima umpan balik (fBA) mengenai pesan kepada sumber.
·         Model Gerbner
Model Gerbner (1956) merupakan perluasan dari model Laswell.
Model ini terdiri dari model verbal dan model diagramatik. Model verbal
gebner adalah sebagai berikut:
v  Seseorang (sumber, komunikator)
v  Mempersepsi suatu kejadian
v  Dan bereaksi
v  Dalam suatu situasi
v  Melalui suatu alat (saluran : media; rekayasa fisik; fasilitas;
admisistratif dan kelembagaanuntuk distribusi dan kontrol)
v  Untuk meyediakan materi
v  Dalam suatu bentuk
v  Dan konteks
v  Yang mengandung isi
v  Yang mempunyai konseksuensi

Revolusi Mental Kaum Hawa


REVOLUSI MENTAL KAUM HAWA
Banyak perubahan yang terjadi pada zaman sekarang, khususnya pada kaum hawa, keadaan dimana wanita bebas mencari karir, mendapat pendidikan, hal tersebut sama halnya menyetarakan hak dan kedudukan antara wanita dengan seorang laki – laki. Hal tersebut sangat bertolak belakang dengan keadaan Indonesia pada zaman penjajahan, dimana seorang wanita dalam balutan patriarki(kedudukan dalam pernikahan), wanita dalam posisi tugasnya dalam rumah tangga, dan dalam dunia pendidikan wanita pun tidak diperbolehkan mendapat pendidikan umum dan hanya dituntut pendidikan sebagai ibu rumah tangga. Sungguh ironis jika keadaan tersebut masih terjadi pada wanita sekarang, dimana kemajuan sangat pesat dan kehidupan teknologi sangat menyebar diseluruh Negara, pulau, daerah, dan bahkan sampai masuk dalam pedesaan.
            Perubahan yang membuat keadaan wanita sekarang, khususnya di Indonesia adalah seorang pahlawan yang terlahir pada tanggal 21 april 1879. Seorang wanita yang hidup dengan keluarga bangsawan, yang masih sangat terikat dengan adat istiadat dalam hidupnya. Wanita tersebut bernama dengan membawa nama kebangsawanannya, Raden Ajeng Kartini pejuang hak wanita, orang yang pertama memperjuangkan hak yang harus didapatkan seorang kaum hawa.
            Dia sangat memikirkan kondisi perempuan pribumi. Dia mengeluh tentang budaya di Jawa yang dipandang sebagai penghambat kemajuan perempuan. Dia ingin wanita memiliki kebebasan menuntut ilmu dan belajar. Beliau prihatin dengan penderitaan perempuan Jawa akibat kungkungan adat, yaitu tidak bisa bebas duduk di bangku sekolah, harus dipingit, dinikahkan dengan laki-laki yang tak dikenal, dan harus bersedia dimadu.
            Jika melihat sosok R.A Kartini, kita disuguhkan dengan wanita yang kuat, gigih, dan perkasa dalam menggapai cita – cita, hal itu terbukti dengan keinginan kartini untuk mengenyang pendidikan di Belanda, walaupun tidak terealisasikan, Kartini tetap belajar dengan banyak membaca banyak buku dan belajar bahasa belanda walaupun dengan kondisinya yang saat itu dijodohkan dengan bangsawan. Kartini sangat memperjuangin emansipasi, emansipasi sendiri berarti persamaan hak dalam berbagai aspek dalam kehidupan(ratna, 2007: 209).
 Hak seorang wanita sekarang sudah hampir didapatkan oleh seorang wanita, banyak wanita karier, banyak wanita bebas memilih pasangan tanpa ada perjodohan, wanita bebas menyuarakan pendapat, dan yang paling penting adalah wanita bebas mendapatkan pendidikan setinggi mungkin, akan tetapi ironisnya. Semua hal tersebut sangat bermanfaat oleh setiap kehidupan apabila wanita tersebut berakhlak baik dan dapat berfikir positif.

Psikologi Politik


Sebuah gambaran yang lebih akurat tentang manusia sebagai aktor politik adalah gambaran yang mengakui bahwa orang-orang terdorong atau termotivasi untuk bertindak sesuai dengan karakteristik kepribadian, nilai keyakinan dan kelekatan (attachments) dengan kelompok-kelompok. Orang-orang adalah prosesor informasi yang tidak sempurna, yang berjuang keras memahami dunia yang kompleks tempat mereka berada. Orang-orang terus-menerus (secara aktif) menggunakan persepsi logis, namun sering kali keliru, tentang orang lain ketika mamutuskan bagaimana cara bertindak dan sering kali mereka tidak menyadari penyebab-penyebab perilaku mereka sendiri. Orang-orang sering melakukan ha;-hal yang tampaknya berlawanan dengan minta, nilai dan keyakinan mereka sendiri. meskipun demikian, dengan memahami kompleksitas psikologi politik, kita dapat menjelaskan perilaku yang sering kali tampak irasional.
Kekuatan stereotip tanpa disadari bertelur dalam pikiran kita, terlepas dari nilai-nilai yang tampak pada diri, dan sudah pasti dipegang secara mendalam. Kategorisasi adalah suatu proses yang didalamnya secara tidaak disadari kita mengkategorikan orang lain ke dalam kelompok-kelompok. Pada permukaanya mengategorisasikan orang-orang ke dalam kelompok-kelompok tampak logis dan rsional. Namun, bahayanya terletak pada konsekuensi mengetegorikan orang-orang ke dalam kelompok atas dasar karakteristik yang mungkin tidak dimiliki oleh orang tersebut. Pada level yang kecil, hanya sedikit kerugian yang ditimbulkan. Namun, jika terjadi pada level masyarakat luas, proses ini dapat menyebabkan tindakan-tindakan kekerasan yang mengerikan. Diskriminasi rasial, pembersihan etnik di Bosnia-Herzegovina, dan genosida di Rwanda seluruhnya, hingga pada titik tertentu, merupaka hasil-hasil penempatan stereotip. Psikologi politik membantu menjelaskan perilaku politik di sepanjang suatu kontinum, mulai dari perilaku politik sehari-hari, seperti pemberian suara, hingga jenis-jenis perilaku yang paling luar biasa, seperti teror dan kekerasan masal.
APA ITU PSIKOLOGI POLITIK?
Psikologi politik merupakan bidang ilmu yang memungkinkan kita mnejelaskan banyak aspek perilaku politik, baik perilaku politik ini tampaknya meruakan tindakan patologis ataupun merupakan praktik pengambilan keputusan normal yang adakalanya optimal, namun pada waktu lainnya merupakan kegagalan-kegagalan. Salah satu tujuan psikologi politik adalah untuk menyusun dalil-dalil umum tentang prilaku yang dapat membantu menjelaskan dan memprediksi peristiwa-peristiwa yang terjadi di sejumlah situasi yang berbeda. Pendekatan yang digunakan oleh para psikolog politik dalam memahami dan memprediksi perilaku adalah metode ilmiah.
Pada dasarnya psikologi politik mewakili penggabungan dua disiplin, psikologi dan ilmu politik, meskipun displin lainya juga telah berkontribusi terhadap pertumbuhan bidang ini. Psikologi politik dapat digambarkan sebagai semacam pernikahan yang mendorong dialog yang sangat bermanfaat. Psikologi politik menyangkut penjelasan tentang apa yang dilakukan oleh orang-orang, dengan mengadaptasikan konsep-konsep psikologi, sehingga konsep ini bermanfaat dan relevan dengan psikologi politik, kemudian mengaplikasikannya pada analisis tentang suatu masalah atau isu politik. Sebagi contoh, para psikolog sering mempelajari proses pengambilan keputusan yang terus-menerus dilakukan oleh kelompok-kelompok.
Para psikolog politik berpendapat bahwa ada sifat-sifat kepribadian tertentu yang penting dalam memengaruhi perilaku politik, seperti bagaimana seseorang menghadapi konflik, seberapa komppleks proses-proses pemikian seseorang dan sebaginya. Dalam psikologi politik, orang-orang sering kali bertindak sebagai bagian dari sebuah kelompok, dan perilaku mereka sebagai bagian dari sebuah kelompok bisa jadi sangat berbeda dibandingkan dengan perilaku ketika mereka sendirian. Dengan demikian, psikologi politik tentang kelompok merupakan merupakan suatu bagian esensial dari psikologi politik sebagai sebuah bidang pengetahuan.
Komponen-Komponen Makhluk Politik
1.      Kepribadian
Kepribadian adalah sebuah faktor psikologis pokok yang memengaruhi perilaku politik. Banyak orang yang mempunyai sifat-sifat yang sama, seperti tingkat kompleksitas tertentu pada proses-proses berpikir merekadan hasrat-hasrat mereka akan kekuasaan dan pencapaian, namun kombinasi dari sikap tersebut berbeda, dengan demikian, setiap individu adalah unik. Oleh karena itu, kepribadian ditempatkan pda pusat otak Makhluk Politik. Kepribadian memengaruhi aspek-aspek lain proses pemikiran, dan kepribadian itu sendiri dipengaruhi oleh pengalaman hidup, namun kepribadian cenderung sangat satabil perihal tingkat kapabilitasnya untuk berubah, dan kepribadian memengaruhi perilaku dan predisposisi perilaku secara berkelanjutan dan kosntan. Selain itu kepribadian memengaruhi perilaku secara tidak disadari, karena oramg-orang jarang duduk diam dan memikirkan dampak kepribadian mereka terhadap preferensi kelompok mereka. Kepribadian mendorong predisposisi perilaku tanpa kita harus memberikan perhatian yang disadari pada sumber preferensi tersebut. Dalam hal ini kepribadian dalam psikologi politik adalah suatu komponen inti dari mesin pemikiran dan persaan politik. Banyak diantara pembahasan kepribadian dalam psikologi politik menyangkut sifat sifat kepribadian para pemimin politik dan dampak kombinasi-kombinasi tertentu dari sifat-sifat ini pada gaya-gaya kepemimpinan mereka.
2.      Nilai-Nilai dan Ideentitas
Konsep ini menyangkut keyakinan yang dimiliki secara mendalam tentang hal apa yang benar dan hal apa yang salah (niali-nilai) dan makna yang dimiliki secara mendalam tentang siapakah seseorang (identitas). Nilai-nilai sering kali mencakup suatu komponen emosi yang kuat. Nilai, emosi dan identittas juga merupakan aspek-aspek daei psikologi sesorang yang dipegang secra mendalam dan cukup permanen, dan kerena itu aspek ini ditempatkan pada pikiran bagian dalam.
3.      Sikap
Sikap dapat dianggap sebagai sebagai unit-unit emiiran yang terdiri dari komponen kognitif tertentu (yakni pengetahuan) dan suatu respons emosi tentangnya (suka, tidak suka, dan lain-lain). Banyak sikap politik penting diperoleh melalui sosialisasi. Sikep ditempatkan menghadap ke pikiran terata, karena dapat diakses oleh pemikirnya (yang dapat ditanyai apa yang ia pikirkan dan rasakan tentag suatu isu dan dapat mengartikulasikan suatu jawaban) dan karena sikap mungkin berubag dengan adanya informasi baru, perubahan-perubahan pada perasaan, atau persuasi. Sikap merupakan fokus perhatian dalam psikologi politik ketika menyangkut keputusan pemberian suara, sosialisasi politik, dampak media pada bagaimana cara berpikir dan apa yang dipikirkan oleh orang-orang, serta gagasan-gagasan politik yang penting seperti toleransi. Studi tentanf perilaku pemberian suara secra umum merupakan area pokok studi dalam psikologi politik.
4.      Kognitif
Proses kogbitif merupakan saluran-saluran yang dilalui oleh pikiran dan lingkungan saat pertama kali berinterakasi. Proses kognitif meyangkut penerimaan dan pengintrepretasian informasi dari luar diri. Proses ini merupakan pikiran komputer, karena memfasilitasi kemampuan individu untuk memproses informasi, menginterpretasikan lingkungsnnya dan memutuskan bagaimana cara bertindak terhdapnya. Proses kognitif membantu kita memahami suatu lingkungan yang terlalu kompleks untuk diinterpretasikan oleh individu manapun . sistem kognitif di dalam otak kita tidak harus secara sadar memeriksa kegunaan dari setiap potongan informasi yang tersedia bagi kita di lingkungan. kita cenderung menerima informasi yang konsisten dngan ide, keyakinan dan asumsi kita yang sudah ada sebelumnyatentang lingkungan tepat kita berada.
Semua elemen psikologis ini saling berinteraksi dan semua pola perilaku merupakan hal penting. Tidak semua elemen psikologis dan pola perilaku tersebut berfungsi setiap waktu. Sikap seseorang terhadap kandidat-kandidat politik tidak setiap hari memengaruhi preferensi politik, namun sikap tersebut berpengaruh saat berlangsungnya pemilihan umum. Nasioalisme bukan merupakan hal penting dalam memengaruhi perilaku, hngga negara atau bangsanya terancam atau meunculnya suatu kesempatan bagia kemajuan negara/bangsanya. Dan juga setiap waktu, salah satu daintara faktor-faktor ini mungkin lebih penting dari pada faktor yang lainnya. Kepribadian dapat menjadi sangat penting ketika seorang presiden sedang menghadapi sebuah krisis besar. Persepsi-persepsi bahwa negara lain adalah musuh mungkin juga penting saat berlangsungnya krisis tersebut. Identitas sosial kelompok etnik presiden ini mungkin penting ketika ia sedang mendesak adanya bagian legislasi tertentu.

Sejarah Perkembangan Psikologi Kesehatan


A.    Perkembangan Psikologi Kesehatan

Pada awal abad ke-20, pemahaman tentang kesehatan didominasi oleh pandangan dari perspektif biologis medis, dimana kesehatan di definisikan sebagai sebuah keadaan dimana tidak adanya penyakit. Kemudian berkembang pandangan dari biopsikososial yang menekankan peran sosial-budaya dalam membentuk kesehatan atau menimbulkan sebuah penyakit. Sebagaimana definisi kesehatan menurut WHO (World health organization) pada tahun 1948 mendefinisikan kesehatan sebagai keadaan lengkap dari fisik, mental dan sosial serta kesejahteraan dan bukan hanya bebas dari penyakit atau kelemahan. Defenisi ini  meminta perhatian terhadap kompleksitas dan multidimensionalitas konsep dari kesehatan. Menambahkan kesejahteraan sosial pada definisi itu membuka jalan untuk konseptualisasi individu sebagai makhluk sosial dalam definisi kesehatan bukan hanya dari aspek fisik/biologi/fisiologi semata.
Pergeseran dari definisi ini, juga berimbas pada ilmu psikologi, yang sebelumnya hanya menganalisis penyakit dan gangguan psikologis, menjadi analisis individu untuk mencapai kesejahteraan seperti promosi-promosi kesehatan. Sebelumnya, ilmu psikologi dikenal sebagai psikologi negatif (psikologi orang sakit), dengan definisi ini berubah dan menjadikan psikologis sebagai sarana keilmuan memanusiakan manusia (mencapai kesejahteraan). Kita mengetahui bahwa perkembangan ilmu psikologi dimulai dari teori psikoanalisia, behavioristic, humanistic, dan sekarang sedang berkembangan indigenous psychology yang menekankan pentingnya dan besarnya pengaruh budaya setempat terhadap tingkah laku seseorang.
Perkembangan terbaru dari pendekatan ini memandang kesehatan sebagai sebuah jaringan yang kompleks yang sangat di pengaruhi oleh sosial-budaya. Bisa saja sebuah budaya memandang sebuah perilaku itu adalah penyimpangan, tetapi pada budaya lain, itu adalah hal yang normal.
Memasukkan budaya dan psikologi ke dalam terapan ilmu kesehatan sangat penting. Misalnya, dalam promosi kesehatan, preventif, keratif, rehabilitasi, tidak mungkin mengesampingkan budaya setempat. Bahkan beberapa budaya terdapat berbagai penyakit yang memang khas budaya tersebut, yang hanya bisa dipahami, jika kita memasukkan konsep budaya dalam penangan penyakit tersebut. Misalnya beberapa penyakit yang memiliki kecenderungan mendapat pengaruh budaya seperti Hikokomori (lazim di Jepang) dan anoreksia (lazim dalam masyarakat barat). Memahami alasan yang mendasari hal ini, cara pencegahan dan pengobatan yang efektif untuk penyakit seperti ini akan memerlukan pendekatan budaya.

B.     Definisi
Psikologi kesehatan adalah salah satu bagian dari psikologi klinisi yang dikenal dengan istilah “Medical Psychology”, dan sekarang selalu dikaitkan dengan Behavioral Medicine. Dasar pemikiran Psikologi Kesehtan adalah adanya hubungn antara pikiran manusia (mind) dan tubuhnya. Definisi Behavioral Medicine adalah integrasi dari ilmu perilaku dengan praktik dan ilmu kedokteran ( Miller dalam Ardani, Rahayu, Sholichatun, 2007)
Pada tahun 1980 Joseph Matarazzo (dalam Ardani, Rahayu, Sholichatun, 2007) mendefinisikn psikologi kesehatan sebagai berikut :

“….the aggregate of the specific educational, scientific and professional contributions of the discipline of psychology to the promotion and maintenance of the health, the prevention of illness, the identification of etiologic and diagnostic correlates of health, illness and related dysfunction, and the analysis and improvement of the health care system and health policy formation.”

Psikologi kesehatan adalah penggabungan dari pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kontribusi praktisi untuk promosi dan pemeliharaan kesehatan, pencegahan dan pengobatan penyakit, dan mengidentifikasi etiologi dan diagnosis yang berkorelasi terhadap kesehatan, penyakit dan disfungsi.
Definisi psikologi kesehatan ini mencakup hal-hal sebagai berikut :
1.      Psikologi kesehatan menyangkut bagian khusus dari bidang ilmu psikologi yang memfokuskan pada studi perilaku yang memiliki kaitan dengan kesehatan dan penerapan kesehatan ini.
2.      Penekanan pada perilaku yang normal di dalam mempromosikan kesehatan (promosi kesehatan dan pencegahan dasar) pada level mikro, meso, makro dan menyembuhka penyimpangan kesehatan.
3.      Banyak bidang psikologi yang berbeda dapat memberikan sumbangan kepada bidang psikologi kesehatan.

C.    Peran Psikologi Dalam Bidang Kesehatan
Fokus pekerjaan praktisi psikologi kesehatan saling beriringan dengan bidang ilmu kesehatan yang lain, misalnya saja dengan ilmu kedokteran, ilmu kesehatan masyarakat, ilmu fisio terapi, juga ilmu keperawatan dan farmasi. Sejauh ini, pendekatan medis dengan dasar biologis memang telah menunjukkan manfaat yang sangat besar dalam dunia kesehatan manusia, misalnya berhasil menaklukkan penyakit endemik (cth: polio, TBC, malaria) atau mengembangkan antibiotik maupun vaksin-vaksin pencegah penyakit. Meskipun demikian, para praktisi kesehatan tidak dapat mengenyampingkan fakta bahwa di luar kecanggihan alat-alat kedokteran maupun perkembangan obat-obatan dan metode penanganan penyakit terbaru, faktor individu atau ke-khas-an dari “person” yang mengalami segala proses yang menyangkut perubahan status kesehatan mereka adalah penentu utama dari efektifnya penerapan metode maupun alat-alat canggih tersebut dalam meningkatkan kesehatan maupun kesejahteraan hidup manusia itu sendiri.
Beberapa faktor yang berhubungan erat dengan kondisi kesehatan antara lain seperti kecenderungan individu untuk memiliki gaya hidup tertentu (lifestyle) maupun memiliki kepribadian tertentu. Praktisi psikologi kesehatan menaruh perhatian pada bagaimana gaya hidup tertentu dapat menjadi faktor risiko (risk factor) kemunculan suatu penyakit. Faktor risiko adalah karakteristik atau kondisi tertentu yang berhubungan dengan kemunculan suatu penyakit, namun belum tentu berperan sebagai penyebab langsung dari kemunculan penyakit tersebut. Meskipun faktor risiko bisa saja merupakan keadaan yang sifatnya genetis maupun biologis, gaya hidup bisa menjadi faktor psikologis (dan sosial) yang juga menjadi salah satu diantaranya.
Selain gaya hidup, penelitian-penelitian dalam psikologi kesehatan juga telah berhasil menunjukkan bahwa tipe kepribadian tertentu berhubungan dengan kondisi kesehatan individu. Sebagai contoh, tipe kepribadian yang mencakup kecemasan yang tinggi, depresi, kemarahan dan kekerasan, atau pesimisme umumnya menjadi faktor risiko yang sering dihubungkan dengan penyakit jantung. Emosi-emosi yang muncul saat individu mengalami stres juga dapat menjadi faktor risiko yang berhubungan dengan kondisi kesehatan mereka serta sejauh mana mereka berhasil pulih dari suatu penyakit. Hubungan antara kepribadian individu dan kondisi kesehatannya bukanlah hubungan sebab-akibat satu arah. Kondisi kesehatan individu juga dapat berpengaruh terhadap kepribadiannya, dimana individu yang mengalami penyakit bisa saja mengalami emosi negatif yang jika terus menerus terjadi tanpa penanganan bisa saja mengubah kepribadian individu tersebut, menjadi lebih pesimis atau justru menjadi seseorang yang lebih tangguh. Oleh sebab itu, peran praktisi psikologi kesehatan di sini sangat penting untuk membantu individu melakukan penyesuaian diri terhadap status kesehatannya berdasarkan cara yang paling efektif bila dilihat dari tipe kepribadiannya, misalnya saat membantu penyesuaian diri pasien stroke dan keluarga yang merawatnya.
Hal lain yang juga menjadi fokus para praktisi psikologi kesehatan adalah gejala-gejala penyakit medis yang muncul karena kondisi psikologis seseorang, atau umumnya dikenal dengan istilah ‘psikosomatis’. Kondisi seperti ini bisa dialami oleh siapa saja, seperti saat kita merasa sakit perut yang tidak kunjung selesai walau tidak ditemukan adanya gangguan dalam fungsi pencernaan atau fungsi organ biologis lain. Ternyata setelah diamati lebih lanjut, saat itu kita sedang merasa sangat cemas akan suatu perubahan besar dalam hidup, misalnya seperti pernikahan, baru saja mengalami kehilangan, promosi jabatan dan sebagainya yang tanpa sadari dapat memunculkan gejala penyakit. Apabila sudah menjadi suatu bentuk gangguan, dalam DSM-IV TR (Diagnostic and Statistical Manual) kondisi ini dikelompokkan sebagai gangguan Somatoform.
Salah satu perspektif yang populer dalam psikologi kesehatan adalah biopsikologi, yang mengemukakan bahwa kesehatan atau kesejahteraan fisik individu saling berhubungan erat dengan kesejahteraan mentalnya. Berdasarkan hal tersebut, salah satu pelopor dalam Psikologi Kesehatan, Matarazzo, menggambarkan fungsi Psikologi Kesehatan sebagai kontribusi dari disiplin ilmu psikologi yang didasarkan pada pendekatan ilmiah dan profesional terhadap hal-hal berikut:
1)  Promosi gaya hidup sehat (health promotion), praktisi psikologi kesehatan dapat membantu merancang program promosi maupun edukasi kesehatan yang sesuai bagi masyarakat, baik bagi para siswa maupun orang dewasa. Misalnya seperti kampanye anti rokok, atau kampanye pencegahan HIV Aids dengan menggunakan kondom bekerja sama dengan praktisi kesehatan dari bidang ilmu lain maupun pihak institusi seperti sekolah dan sebagainya. Bahkan praktisi yang bergerak di bidang psikologi kesehatan ini bisa membantu kita untuk menyusun pola hidup sehat yang mencakup diet dan membantu mengubah pola pikir kita soal diet tersebut. Tentunya  bekerja sama dengan praktisi kesehatan lain seperti ahli gizi.
2)   Pencegahan dan perawatan terhadap penyakit, praktisi psikologi kesehatan dapat membantu menyusun program-program pencegahan maupun perawatan terhadap penyakit melalui pendekatan psikologis. Contohnya seperti memperkenalkan metode relaksasi dan pemecahan masalah untuk membantu pasien darah tinggi agar tidak terlalu tegang dalam menghadapi stres sehari-hari, membantu proses penyesuaian dan rehabilitasi bagi pasien stroke seperti menentukan kegiatan yang dapat dilakukan, bagaimana mengatur pola makan, membantu pasien dan keluarga untuk menyalurkan emosi negatif mereka, dan sebagainya
3) Identifikasi penyebab kemunculan penyakit dan diagnosis kondisi kesehatan individu/disfungsi lain, praktisi psikologi kesehatan dapat membantu praktisi kesehatan lain untuk menentukan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kemunculan suatu penyakit dari sisi psikologis, seperti kepribadian pasien, gaya hidup, dan sebagainya seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Praktisi psikologi kesehatan juga dapat membantu sejauh mana individu sesuai dengan metode perawatan tertentu.
4)  Analisis dan peningkatan terhadap sistem perawatan kesehatan dan penyusunan peraturan-peraturan yang berkaitan dengan industri kesehatan (health-policy), praktisi psikologi kesehatan dapat membantu untuk menganalisis sejauh mana fasilitas perawatan kesehatan yang ada, seperti rumah sakit, puskesmas, anggota praktisi kesehatan, biaya perawatan, maupun sistem perawatan kesehatan yang ada dapat berfungsi secara optimal bagi proses perawatan kesehatan masyarakat. Dalam hal ini, praktisi psikologi kesehatan membantu memberikan rekomendasi bagi pembuat kebijakan, memberikan pelatihan-pelatihan terkait kondisi psikologis individu terhadap praktisi kesehatan maupun kader puskesmas, dan sebagainya.

D.    Penerapan Psikologi Sosial pada Tingkah Laku yang Terkait dengan Kesehatan
Menanggapi informasi-informasi yang terkait dengan kesehatan
·         Memahami dan mengevaluasi informasi tentang kesehatan
Jika berita-berita utama di media adalah sumber pengetahuan kita, maka kita akan terus menerus hidup dalam ketakutan terhadap beberapa penyakit, namun secara teratur kita juga menerima berita-berita positif yang mengindikasikan bahwa ilmu kesehatan hampir berhasil dalam mencegah atau menyembuhkan penyakit tersebut.
Sejumlah wacana diatur agar memenuhi dua fungsi sekaligus, yaitu memberikan informasi tentang sebuah wabah baru dan juga memberikan informasi tentang bagaimana kita harus menghadapinya (Fischman, 2001). Kemajuan medis juga tampaknya didukung oleh kenyataan bahwa kini orang-orang memperoleh informasi secara lebih baik, mendapatkan diagnosis dokter secara lebih cepat, dan mengubah kebiasaan-kebiasaan mereka.
·         Menolak Versus Menerima Informasi Tentang Kesehatan
Dalam merespons serangan informasi tentang kesehatan yang bertubi-tubi dari tv, Koran-koran, majalah, internet, dan petugas medis, orang-orang cenderung hanya menerima sebagian saja. Kalaupun mereka menerima informasi-informasi secara sepenuhnya, bukan berarti tingkah laku mereka juga berubah sejalan dengan informasi yang mereka terima.

Pengertian Konformitas dalam Psikologi Sosial


A. PENGARUH SOSIAL
Pengaruh sosial adalah usaha untuk mengubah sikap, kepercayaan (belief), persepsi, atau tingkah laku orang lain. Ada tiga bentuk pengaruh sosial yang dikenal dalam psikologi sosial, diantaranya adalah konformitas, complience, dan obedience. Dalam konformitas individu mengubah sikap dan tingkah lakunya agar sesuai dengan norma sosial, dengan kata lain ada tekanan dari kelompok untuk bertingkah laku dengan cara-cara tertentu. Dalam complience individu melakukan suatu tingkah laku atas permintaan orang lain. Sementara dalam obedience individu melakukan tingkah laku atas perintah orang lain.
Pengaruh sosial dapat memberikan dampak positif dan  dampak negatif terhadap perilaku individu. Masyarakat dapat terbentukdengan tatanan sosial yang teratur karena kecenderungan manusia untuk mengikuti aturan-aturan yang ada di lingkungan sosial. Namun, kecenderungan itu tidak selalu berarti pada hal-hal yang positif saja. Manusia juga dapat terpengaruh oleh lingkungan sosial untuk melakukan perilaku negatif. Seperti konformitaspada perilaku tawuran, atau kepatuhan buta dalam destructive obedience.

B. KONFORMITAS
a. Definisi Konformitas
Tekanan untuk melakukan konformitas berakar dari kenyataan bahwa diberbagai korteks ada aturan-aturan eksplisit ataupun tak terucap yang mengindikasikan bagaimanan kita seharusnya atau sebaiknya bertingkah laku. Aturan-aturan ini dikenal sebagai norma sosial (social norm), dan aturan-aturan ini sering kali menimbulkan efek yang kuat pada tingkah laku kita.Jenis norma yang memberitahu kita apa yang seharusnya kita lakukan pada situasi tertentu.
Deaux, (dalam Zebua dan Nurdjayadi, 2001:75) mengemukakan bahwa konformitas berarti tunduk pada tekanan kelompok meskipun tidak ada permintaan langsung untuk mengikuti apa yang telah diperbuat oleh kelompok. Sarwono (1995:206) mendefinisikan konformitas sebagai usaha dari individu untuk selalu selaras dengan norma-norma yang diharapkan oleh kelompok.
Myers (1999:203) mengemukakan bahwa konformitas merupakan perubahan perilaku sebagai akibat dari tekanan kelompok. Ini terlihat dari kecenderungan remaja untuk selalu menyamakan perilakunya dengan kelompok acuan sehingga dapat terhindar dari celaan maupun keterasingan. Sears (1994:76) berpendapat bahwa bila seseorang menampilkan perilaku tertentu karena disebabkan oleh karena orang lain menampilkan perilaku tersebut, disebut konformitas.
Menurut Baron dan Byrne (1994: 206) konformitas remaja adalah penyesuaian perilaku remaja untuk menganut pada norma kelompok acuan, menerima ide atau aturan-aturan yang menunjukkan bagaimana remaja berperilaku. Jalaludin (2004:148) mengatakan bahwa bila sejumlah orang dalam kelompok mengatakan atau melakukan sesuatu, ada kecenderungan para anggota untuk mengatakan dan melakukan hal yang sama. Priede dan Ferrel (1995: 189-210) mengatakan bahwa kelompok referensi atau kelompok teman sebaya mempengaruhi keputusan pembelian bergantung pada sejauh mana individu tersebut melakukan konformitas dan terpengaruh oleh kelompok serta kekuatan keterlibatannya di dalam kelompok.
Zebua dan Nurdjayadi (2001:75) mengemukakan bahwa konformitas pada remaja umumnya terjadi karena mereka tidak ingin dipandang berbeda dengan teman-temannya. Pada remaja, tekanan teman sebaya lebih dominan. Hal ini disebabkan oleh besarnya keinginan untuk menjaga harmonisasi dan penerimaan sosial dalam kelompok. Konformitas muncul pada masa remaja awal yaitu antara 13 tahun sampai 16 atau 17 tahun, yang ditunjukkan dengan cara menyamakan diri dengan teman sebaya dalam hal berpakaian, bergaya, berperilaku, berkegiatan dan sebagainya. Sebagian remaja beranggapan bila mereka berpakaian atau menggunakan aksesoris yang sama dengan yang sedang diminati kelompok acuan, maka timbul rasa percaya diri dan kesempatan diterima kelompok lebih besar. Oleh karena itu remaja cenderung menghindari penolakan dari teman sebaya dengan bersikap konform atau sama dengan teman sebaya.
Baron dan Byrne (1994:208) berpendapat bahwa seseorang melakukan konformitas terhadap kelompok hanya karena perilaku individu didasarkan pada harapan kelompok atau masyarakat. Berk dalam Zebua dan Nurdjayadi (2001:75) menambahkan bahwa konformitas terhadap kelompok teman sebaya ternyata merupakan suatu hal yang paling banyak terjadi pada fase remaja. Dari uraian pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa konformitas merupakan perubahan perilaku remaja sebagai usaha untuk menyesuaikan diri  dengan norma kelompok acuan baik ada maupun tidak ada tekanan secara langsung yang berupa suatu tuntutan tidak tertulis dari kelompok teman sebaya terhadap anggotanya namun memiliki pengaruh yang kuat dan dapat menyebabkan munculnya perilaku-perilaku tertentu pada remaja anggota kelompok tersebut.



b. Aspek-aspek Konformitas
Konformitas sebuah kelompok acuan dapat mudah terlihat dengan adanya ciri-ciri yang khas. Sears (1991:81-86) mengemukakan secara eksplisit bahwa konformitas remaja ditandai dengan adanya tiga hal sebagai berikut :
1. Kekompakan
Kekuatan yang dimiliki kelompok acuan menyebabkan remaja tertarik dan ingin tetap menjadi anggota kelompok. Eratnya hubungan remaja dengan kelompok acuan disebabkan perasaan suka antara anggota kelompok serta harapan memperoleh manfaat dari keanggotaannya.
Semakin besar rasa suka anggota yang satu terhadap anggota yang lain, dan semakin besar harapan untuk memperoleh manfaat dari keanggotaan kelompok serta semakin besar kesetiaan mereka, maka akan semakin kompak kelompok tersebut.
a. Penyesuaian Diri
Kekompakan yang tinggi menimbulkan tingkat konformitas yang semakin tinggi. Alasan utamanya adalah bahwa bila orang merasa dekat dengan anggota kelompok lain, akan semakin menyenangkan bagi mereka untuk mengakui kita, dan semakin menyakitkan bila mereka mencela kita. kemungkinan untuk menyesuaikan diri akan semakin besar bila kita mempunyai keinginan yang kuat untuk menjadi anggota sebuah kelompok tertentu.
b. Perhatian terhadap Kelompok
Peningkatan koformitas terjadi karena anggotanya enggan disebut  sebagai orang yang menyimpang. Seperti yang telah kita ketahui, penyimpangan menimbulkan resiko ditolak. Orang yang terlalu sering menyimpang pada saat-saat yang penting diperlukan, tidak menyenangkan, dan bahkan bisa dikeluarkan dari kelompok. Semakin tinggi perhatian seseorang dalam kelompok semakin serius tingkat rasa takutnya terhadap penolakan, dan semakin kecil kemungkinan untuk tidak meyetujui kelompok.
2. Kesepakatan
Pendapat kelompok acuan yang sudah dibuat memiliki tekanan kuat sehingga remaja harus loyal dan menyesuaikan pendapatnya dengan pendapat kelompok.
a. Kepercayaan
Penurunan melakukan konformitas yang drastis karena hancurnya kesepakatan disebabkan oleh faktor kepercayaan. Tingkat kepercayaan terhadap mayoritas akan menurun bila terjadi perbedaan pendapat, meskipun orang yang berbeda pendapat itu sebenarnya kurang ahli bila dibandingkan anggota lain yang membentuk mayoritas. Bila seseorang sudah tidak mempunyai kepercayaan terhadap pendapat kelompok, maka hal ini dapat mengurangi ketergantungan individu terhadap kelompok sebagai sebuah kesepakatan.
b. Persamaan Pendapat
Bila dalam suatu kelompok terdapat satu orang saja tidak sependapat dengan anggota kelompok yang lain maka konformitas akan turun. Kehadiran orang yang tidak sependapat tersebut menunjukkan terjadinya perbedaan yang dapat berakibat pada berkurangnya kesepakatan kelompok. Jadi dengan persamaan pendapat antar anggota kelompok maka konformitas akan semakin tinggi.
c. Penyimpangan terhadap pendapat kelompok
Bila orang mempunyai pendapat yang berbeda dengan orang lain dia akan dikucilkan dan dipandang sebagai orang yang menyimpang, baik dalam
pandangannya sendiri maupun dalam pandangan orang lain. Bila orang lain juga mempunyai pendapat yang berbeda, dia tidak akan dianggap menyimpang dan tidak akan dikucilkan. Jadi kesimpulan bahwa orang yang menyimpang akan menyebabkan penurunan kesepakatan merupakan aspek penting dalam melakukan konformitas.
3. Ketaatan
Tekanan atau tuntutan kelompok acuan pada remaja membuatnya rela melakukan tindakan walaupun remaja tidak menginginkannya. Bila ketaatannya tinggi maka konformitasnya akan tinggi juga.
a. Tekanan karena Ganjaran, Ancaman, atau Hukuman
Salah satu cara untuk menimbulkan ketaatan adalah dengan meningkatkan tekanan terhadap individu untuk menampilkan perilaku yang diinginkan melalui ganjaran, ancaman, atau hukuman karena akan menimbulkan ketaatan yang semakin besar. Semua itu merupakan insentif pokok untuk mengubah perilaku seseorang.
b. Harapan Orang Lain
Seseorang akan rela memenuhi permintaan orang lain hanya karena orang lain tersebut mengharapkannya. Dan ini akan mudah dilihat bila permintaan diajukan secara langsung. Harapan-harapan orang lain dapat menimbulkan ketaatan, bahkan meskipun harapan itu bersifat implisit. Salah satu cara untuk memaksimalkan ketaatan adalah dengan menempatkan individu dalam situasi yang terkendali, dimana segala sesuatunya diatur sedemikian rupa sehingga ketidaktaatan merupakan hal yang hampir tidak mungkin timbul.



Wiggins (1994 : 124) membagi aspek konformitas menjadi dua, yaitu :
a. Kerelaan
Rela mengikuti apapun pendapat kelompok yang diinginkan atau diharapkan agar memperoleh hadiah berupa pujian dan untuk menghindari celaan, keterasingan, cemooh yang mungkin diberikan oleh kelompok jika tidak dikerjakan salah satu dari anggota kelompok tersebut.
b. Perubahan
Saat terjadi perubahan dalam suatu melakukan konformitas, ketidakhadiran anggota kelompok lebih dianggap sesuai dengan perilaku dan tindakan anggota kelompok yang hadir. Jadi maksud dari perubahan di sini adalah proses penyesuaian perilaku dari masing-masing anggota kelompok terhadap kesepakatan kelompok itu sendiri.

c. Faktor-faktor yang mempengaruhi konformitas
Ada empat faktor yang perlu diperhatikan yang dapat mempengaruhi konformitas (Baron dan Byrne,1994), yaitu :
1.    Kohesivitas
yang mencerminkan derajat ketertarikan individu terhadap kelompok. Semakin besar kohesivitas, maka akan tinggi keinginan individu untuk melakukan konformitas terhadap kelompok. Sarwono (2001:182-185) menambahkan kohesivitas adalah perasaan keterpaduan, ke-kitaan antar anggota kelompok. Semakin besar keterpaduan atau cohesiveness maka semakin besar pula pengaruhnya pada perilaku individu.
2.    Ukuran kelompok.
Sehubungan dengan hal ini masih terdapat perdebatan mengenai besar kecilnya jumlah anggota dalam suatu kelompok yang mempengaruhi konformitas. Namun jika jumlah anggota melebihi tiga orang akan meningkatkan konformitas.
3.    Ada-tidaknya dukungan sosial
Penelitian Ash’s (dalam Zebua dan Nurdjayadi, 2001:75) memperlihatkan bahwa subjek penelitiannya ternyata terbuka terhadap tekanan sosial dari kelompok yang selalu sepakat dalam pengambilan keputusan. Sebaliknya individu akan menolak untuk melakukan konformitas jika ia mendapat dukungan dari orang-orang lain yang tidak sependapat dengan dirinya.
4. Perbedaan jenis kelamin
Perempuan lebih tinggi intensitasnya dalam bermelakukan konformitas daripada pria, karena pada perempuan lebih melekat keinginan untuk merubah penampilan yang berhubungan dengan mode. Hal ini dapat dibuktikan bahwa perempuan cenderung lebih sering ditemukan di Mall untuk belanja yang berlebihan. Sarwono (2001:182-185) mengatakan bahwa ada enam ciri yang menandai konformitas, yaitu :
a. Besarnya kelompok, kelompok yang kecil lebih memungkinkan melakukan konformitas daripada kelompok yang besar.
b. Suara bulat, lebih mudah mempertahankan pendapat jika banyak kawannya.
c. Keterpaduan / kohesivitas, semakin besar kohesivitas maka akan tinggi keinginan individu untuk melakukan konformitas terhadap kelompok.
d. Status, bila status individu dalam kelompok belum ada maka individu akan
melakukan konformitas agar dirinya memperoleh status sesuai harapannya.
e. Tanggapan umum, perilaku yang terbuka yang dapat didengar atau dilihat secara umum lebih mendorong konformitas daripada perilaku yang dapat didengar atau dilihat oleh orang-orang tertentu.
f. Komitmen umum, konformitas akan lebih mudah terjadi pada orang yang tidak mempunyai komitmen apa-apa.