Showing posts with label Ilmu Psikologi. Show all posts
Showing posts with label Ilmu Psikologi. Show all posts

Friday, May 10, 2019

Perilaku Prososial


Menurut Sears. Peplau, dan Taylor. Perilaku prososial mencakup kategori yang lebih luas, segala bentuk tindakan yang dilakukan atau direncanakan untuk menolong orang lain, tanpa memperdulikan motif-motif si penolong. Perilaku prososial adalah segala bentuk tindakan positif yang diberikan pada orang lain tanpa keinginan untuk memperoleh imbalan untuk kepentingan
diri sendiri.

            Perilaku prososial adalah sebagai tindakan sosial, rasa perhatian, penghargaan, kasih sayang, kesetiaan, serta bantuan yang diberikan pada orang lain yang dilakukan dengan suka rela tanpa pamrih. Perilaku prososial ialah tindakan sukarela yang dilakukan sesorang atau sekelompok orang untuk menolong orang lain tanpa mengharapkan imbalan apa pun atau perasaan telah melakukan kebaikan. Perilaku prososial berkisar dari tindakan yang tidak mementingkan diri sendiri atau tanpa pamrih sampai tindakan menolong yang sepenuhnya dimotivasi oleh kepentingan diri sendiri (Rusthon, 1980)

            Baron dan Byrne (2004) mengungkapkan bahwa perilaku prososial dapat didefinisikan sebagai perilaku yang memiliki konsekuensi positif orang lain. Myers. Mengatakan bahwa perilaku adalah kepedulian dan pertolongan pada orang lain yang dilakukan secara suka rela dan tidak mengharapkan imbalan apapun. Dalam pandangan psikologi sosial perilaku prososial disebabkan oleh beberapa faktor, maksud pemahaman kita tentang perilaku prososial berasal dari beberapa perspektif teoritis yang luas. Adapun teori teori yang berkenaan dengan
prososial diantaranya sebagai berikut:
1.      Teori Behaviorisme
      sebuah teori tentang perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman. Teori ini lalu berkembang menjadi aliran psikologi belajar yang berpengaruh terhadap arah pengembangan teori dan praktikpendidikan dan pembelajaran yang dikenal sebagai aliran behavioristik. Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar.
      Faktor lain yang dianggap penting oleh aliran behavioristik adalah faktor penguatan (reinforcement). Bila penguatan ditambahkan (positive reinforcement) maka respon akan semakin kuat. Begitu pula bila respon dikurangi/dihilangkan (negative reinforcement) maka respon juga semakin kuat.

Beberapa prinsip dalam teori belajar behavioristik, meliputi:
(1)   Reinforcement and Punishment
(2)   Primary and Secondary Reinforcement
(3)    Schedules of Reinforcement;
(4)   Contingency Management;
(5)    Stimulus Control in Operant Learning;
(6)   The Elimination of Responses (Gage, Berliner, 1984).
        Menurut Thorndike, belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon. Stimulus adalah apa yang merangsang terjadinya kegiatan belajar seperti pikiran, perasaan, atau hal-hal lain yang dapat ditangkap melalui alat indera. Sedangkan respon adalah reaksi yang dimunculkan peserta didik ketika belajar, yang dapat pula berupa pikiran, perasaan, atau gerakan/tindakan. Jadi perubahan tingkah laku akibat kegiatan belajar dapat berwujud konkrit, yaitu yang dapat diamati, atau tidak konkrit yaitu yang tidak dapat diamati. Meskipun aliran behaviorisme sangat mengutamakan pengukuran, tetapi tidak dapat menjelaskan bagaimana cara mengukur tingkah laku yang tidak dapat diamati.
        Kaum behavioris mengemukakan alasan manusia memiliki jiwa penolong karena seseorang diajarkan oleh lingkungan (masyarakat) untuk menolong dan untuk prbuatan itu masyarakat menyediakan ganjaran positif, sehingga hal ini memaksakan pentingnya atas proses belajar. Dalam masa perkembangan anak mempelajari norma masyarakat tentang tindakan menolong.dirumah, disekolah dan di lingkungan masyarakat mengajarakan pada anak bahwa mereka harus menolong orang lain.
2.      Teori Norma Sosial
      Menurut teori ini, orang menolong karena diharuskan oleh norma-norma masyarakat.
Ada tiga macam norma sosial yang biasnya dijadikan pedoman untuk berperilaku menolong, yaitu:
·         Norma timbal balik ( reciprocity norm). Teori ini dikemukakan oleh Alvin Goulner seseorang tokoh sosiologi dan dalam teori ini, ia berpendapat bahwa kita harus menolong orang lain yang menolong kita. Jika kita sekarang menolong orang lain, maka kita pada suatu saat akan ditolong orang pula. 
·         Norma tanggung jawab sosial (social responsibility norm). Dalam teori ini mengatakan bahwa kita wajib menolong orang lain tanpa mengharapkan balasan apapun, dimasa depan sebagai rasa tanggung jawab dalam bersosialisasi dengan masyarakat. Norma ini menentukan bahwa seharusnya kita membantu orang lain, sebab aturan agama dan moral dimasyarakat menekankan kewjiban untuk saling bantu-membantu dan menolong orang lain. 
·         Norma keseimbangan (harmonic norm). Ini berlaku didunia timur mengatakan bahwa seluruh alam semesta harus berada dalam keadaan yang seimbang, serasi dan selaras. Manusia harus membantu untuk mempertahankan keseimbangan itu antara lain dalam bentuk perilaku menolong.

2.2.  Aspek-aspek Perilaku Prososial
Eisenberg dan Mussen (dalam Dayakisni, 2009) memberi pengertian perilaku prososial  mencakup pada tindakan-tindakan: sharing (membagi), cooperative (kerjasama), donating (menyumbang), helping (menolong), honesty (kejujuran), generosity (kedermawanan), serta mempertimbangkan hak dan kejesahteraan orang lain. Untuk memudahkan penelitian, maka peneliti mendeskripsikan indikator-indikator perilaku prososial diatas, sebagai berikut:
1.                           Membagi  (Sharing),  yakni memberikan  kesempatan  kepada orang lain untuk dapat merasakan  sesuatu yang dimilikinya, termasuk keahlian dan pengetahuan.
2.                           Kerjasama  (Cooperative),  yaitu melakukan kegiatan bersama dengan orang lain untuk mencapai tujuan bersama, termasuk mempertimbangkan dan menghargai pendapat orang lain dalam berdiskusi.
3.                           Menyumbang  (Donating),  adalah  perbuatan yang memberikan secara materil kepada seseorang atau kelompok untuk kepentingan umum yang berdasarkan pada permintaan, kejadian dan kegiatan.
4.                           Menolong(Helping), yakni membantu orang lain secara fisik untuk mengurangi beban yang sedang dilakukan.
5.                           Kejujuran(Honesty),  merupakan  tindakan dan ucapan yang sesuai dengan keadaan yang sebenarnya.  
6.                           Kedermawanan(Generosity),  ialah memberikan sesuatu (biasanya berupa uang dan barang) kepada orang lain atas dasar kesadaran diri.
7.                           Mempertimbangan hak dan kejesahteraan orang lain, yaitu suatu tindakan untuk melakukan suatu hal untuk kepentingan pribadi yang berhubungan dengan orang lain tanpa menganggu dan melanggar hak dan kesejahteraan orang lain



2.3. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Prososial
            Campbell (dalam Sears, 1994: 50) menjelaskan bahwa faktor sosial dapat menentukan perilaku prososial individu. Adanya evolusi sosial, yaitu perkembangan sejarah dan kebudayaan atau peradaban manusia dapat menjelaskan perilaku prososial dasar, mulai dari pemeliharaan orang tua terhadap anaknya sampai menolong orang asing yang mengalami kesulitan. Menurutnya, secara bertahap dan selektif masyarakat manusia mengembangkan keterampilan, keyakinan, dan teknologi yang menunjang atau bermanfaat bagi kesejahteraan kelompok, maka perilaku prososial menjadi bagian dari aturan atau norma sosial. Norma yang penting bagi perilaku prososial adalah tanggung jawab sosial, norma timbal balik, dan kadilan sosial. Ketiga norma ini merupakan dasar budaya bagi perilaku prososial. Melalui proses sosialisasi, individu mempelajari aturan-aturan dan menampilkan perilaku sesuai dengan pedoman perilaku prososial. Proses belajar juga merupakan faktor yang menentukan perilaku prososial. Dalam masa perkembangan, anak mempelajari norma masyarakat tentang tindakan menolong. Di rumah, di sekolah, dan di dalam masyarakat, orang dewasa mengajarkan pada anak bahwa mereka harus menolong orang lain.Faktor-faktor spesifik yang mempengaruhi perilaku prososial yaitu, karakteristik situasi, karakterisrik penolong, dan karakteristik orang yang membutuhkan pertolongan (dalam Sears dkk, 1994: 61) :
1.      Faktor Situasional, meliputi :
a.       Kehadiran Orang Lain
Individu yang sendirian lebih cenderung memberikan reaksi jika terdapat situasi darurat ketimbang bila ada orang lain yang mengetahui situasi tersebut. Semakin banyak orang yang hadir, semakin kecil kemungkinan individu yang benar-benar memberikan pertolongan. Faktor ini sering disebut dengan efek penonton (bystander effect). Individu yang sendirian menyaksikan orang lain mengalami kesulitan, maka orang itu mempunyai tanggung jawab penuh untuk memberikan reaksi terhadap situasi tersebut.
b.      Kondisi Lingkungan
Keadaan fisik lingkungan juga mempengaruhi kesediaan untuk membantu. Pengaruh kondisi lingkungan ini seperti cuaca, ukuran kota, dan derajat kebisingan.
c.       Tekanan Waktu
Tekanan waktu menimbulkan dampak yang kuat terhadap pemberian bantuan. Individu yang tergesa-gesa karena waktu sering mengabaikan pertolongan yang ada di depannya.

2.      Faktor penolong, meliputi :
a.       Faktor Kepribadian
Adanya ciri kepribadian tertentu yang mendorong individu untuk memberikan pertolongan dalam beberapa jenis situasi dan tidak dalam situasi yang lain. Misalnya, individu yang mempunyai tingkat kebutuhan tinggi untuk diterima secara sosial, lebih cenderung memberikan sumbangan bagi kepentingan amal, tetapi hanya bila orang lain menyaksikannya. Individu tersebut dimotivasi oleh keinginan untuk memperoleh pujian dari orang lain sehingga berperilaku lebih prososial hanya bila tindakan itu diperhatikan.
b.       Suasana Hati
Individu lebih terdorong untuk memberikan bantuan bila berada dalam suasana hati yang baik, dengan kata lain, suasana perasaan positif yang hangat meningkatkan kesediaan untuk melakukan perilaku prososial.
c.       Rasa Bersalah
Keinginan untuk mengurangi rasa bersalah bisa menyebabkan individu menolong orang yang dirugikannya, atau berusaha menghilangkannya dengan melakukan tindakan yang baik.
d.      Distres dan Rasa Empatik
Distres diri (personal distress) adalah reaksi pribadi individu terhadap penderitaan orang lain, seperti perasaan terkejut, takut, cemas, perihatin, tidak berdaya, atau perasaan apapun yang dialaminya. Sebaliknya, rasa empatik (empathic concern) adalah perasaan simpati dan perhatian terhadap orang lain, khususnya untuk berbagi pengalaman atau secara tidak langsung merasakan penderitaan orang lain. Distres diri terfokus pada diri sendiri yaitu memotivasi diri untuk mengurangi kegelisahan diri sendiri dengan membantu orang yang membutuhkan, tetapi juga dapat melakukannya dengan menghindari situasi tersebut atau mengabaikan penderitaan di sekitarnya. Sebaliknya, rasa empatik terfokus pada si korban yaitu hanya dapat dikurangi dengan membantu orang yang berada dalam kesulitan dalam rangka meningkatkan kesejahteraannya.



3.      Orang yang membutuhkan pertolongan, meliputi :
a.       Menolong orang yang disukai
Rasa suka awal individu terhadap orang lain dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti daya tarik fisik dan kesamaan. Karakteristik yang sama juga mempengaruhi pemberian bantuan pada orang yang mengalami kesulitan. Sedangkan individu yang memiliki daya tarik fisik mempunyai kemungkinan yang lebih besar untuk menerima bantuan. Perilaku prososial juga dipengaruhi oleh jenis hubungan antara orang seperti yang terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, individu lebih suka menolong teman dekat daripada orang asing.
b.      Menolong orang yang pantas ditolong
Individu membuat penilaian sejauh mana kelayakan kebutuhan yang diperlukan orang lain, apakah orang tersebut layak untuk diberi pertolongan atau tidak. Penilaian tersebut dengan cara menarik kesimpulan tentang sebab-sebab timbulnya kebutuhan orang tersebut. Individu lebih cenderung menolong orang lain bila yakin bahwa penyebab timbulnya masalah berada di luar kendali orang tersebut

Individu dalam Kelompok (definisi dan manfaat)


A.   Individu dalam Kelompok
a)      Definisi Individu dalam kelompok
Individu berasal dari kata individium (latin), yaitu satuan kecil yang tidak dapat dibagi lagi. Individu menurut konsep sosiologi, artinya manusia yang hidup berdiri sendiri, tidak mempunyai kawan (sendiri). Individu sebagai makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, di dalam dirinya selalu dilengkapi dengan kelengkapan hidup meliputi raga, rasa, rasio, dan rukun.
Kelompok merupakan sekumpulan orang yang merasa terikat bersama dalam unit koheren pada beberapa tingkatan (Baron, Branscombe & Byrne, 2008, p. 380). Definisi lain menyebutkan bahwa kelompok adalah dua atau lebih orang yang berbagi definisi dan evaluasi yang serupa tentang diri mereka dan bersikap berdasarkan definisi tersebut (Vaughan & Hagg, 2005, hlm.182). Kelompok dua atau lebih individu berinteraksi secara langsung, masing-masing peduli dengan hubungannya dalam sebuah grup, masing-masing peduli dengan orang lain yang menjadi anggota grup, dan masing-masing peduli dengan ketergantungan positif mereka sehingga mereka dapat berusaha mencapai tujuan bersama ( Johnson& Johnson, dalam Vaughan & Hagg, 2005, hlm.183).
Berdasarkan definisi-definisi tersebut, maka dapat menarik kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan kelompok mempunyai hal-hal berikut :
a.       Sekelompok orang (dua atau lebih)
b.      Memersepsi atau dipersepsi sebagai satu kesatuan
c.       Ada interaksi antaranggota
d.      Ada saling ketergantungan satu sama lain
e.       Memiliki tujuan bersama
f.       Anggota kelompok merasa dirinya sebagian dari kelompok

b)     Manfaat Kelompok bagi Individu
Menurut Burn (2004), kelompok memiliki tiga manfaat, yaitu :
a.       Kelompok memenuhi kebutuhan individu untuk merasa berarti dan dimiliki. Adanya kelompok membuat individu tidak merasa sendirian, ada orang lain yang membutuhkan dan menyayangi.
b.      Kelompok sebagai sumber identitas diri. Individu yang tergabung dalam kelompok bisa mendefinisikan dirinya, ia mengenali dirinya sebagai anggota suatu kelompok, dan bertingkah laku sesuai norma kelompok itu.
c.       Kelompok memiliki anggota dengan perannya masing-masing sehingga peran dapat mencegah anggota kelompok dari sanksi yang negative akibat salah mengambil tindakan dan mencegah anggota kelompok dari kesalahpahaman. Peran yang telah diambil seorang anggota kelompok akan diinternalisasi dan menjadi bagian dari konsep diri pemiliknya, menjadi alat untuk mendefinisikan diri pemilik peran, dan mengarahkan tingkah lakunya.

c)      Komponen Utama Kelompok
Kelompok memiliki struktur. Struktur kelompok ini dapat mempengaruhi tingkah laku individu yang menjadi anggotanya atau individu lain diluar kelompok. Struktur kelompok terdiri dari peran, status, jejaring komunikasi, sosialisasi kelompok, norma dan kohesivitas.
a)      Peran
Peran merupakan serangkaian perilaku yang diharapkan untuk dilakukan oleh individu (atau kelompok individu) yang menempati posisi tertentu di dalam grup.( Baron dkk., 2008, halaman 384 )
Peran dirancang dengan spesifik untuk membedakan di antara orang-orang dalam grup untuk kebaikan grup itu secara keseluruhan membantu untuk menjelaskan tanggung jawab dan kewajiban anggota grup ( Vaughan & Hogg, 2005, hlm. 201 )
Berdasarkan kedua definisi di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan peran adalah serangkaian tingkah laku yang dijalankan dan atau diharapkan dijalankan oleh anggota kelompok yang memiliki posisi tertentu di dalam kelompok sehingga membedakan ia dari anggota lain yang memiliki posisi berbeda.
Konflik peran adalah kondisi ketika berbagai tuntutan di dalam peran seseorang yang bertentangan (intraperan) atau ketika tuntutan dari berbagai peran yang dimiliki seseorang saling bertentangan satu sama lain (antar peran) (Burn, 2004).
b)     Status
                       Status adalah posisi seorang anggota kelompok di dalam hierarki kelompok berdasarkan prestasi,penghormatan,atau keistimewaan yang membedakan dirinya dengan anggota lain di dalam kelompok.
           Status terjadi karena adanya perbedaan peran di dalam kelompok.Ada peran-peran yang pemegangnya lebih dihormati dibandingkan yang lain. Status terdiri atas dua jenis,yaitu status yang diwariskan (ascribed status) dan status yang diusahakan (achieved status).Status yang diwariskan adalah status yang diberikan kepada individu karena ia memiliki karakteristik yang menurut kelompok berharga dan prestisius.Sedangkan status yang diusahakan diperoleh individu karena ia melakukan sesuatu yang penting dalam mencapai tujuan kelompok atau berkorban untuk kelompok.
             Faktor-faktor yang berhubungan dengan diraihnya status tinggi seseorang di dalam kelompok menurut penelitian (Vaughan dan Hogg,2005;Baron dkk,2008) :
a.      Ukuran tubuh.Laki-laki dan perempuan yang lebih tinggi cenderung dipilih menjadi pemimpin.
b.      Memiliki atribut-atribut yang penting bagi kelompok,baik sifat maupun     penampilan,atau atribut lain seperti jenis kelamin,etnisitas,dan pekerjaan.
c.       Usia.Anggota yang senior,lebih besar kemungkinannya memegang status yang tinggi.
d.     Kemampuan individu dalam menangani tugas kelompok dan berinisiatif melakukan sesuatu yang menguntungkan kelompok.

c)       Komunikasi di dalam Kelompok
      Komunikasi adalah transmisi informasi dan pemahaman antara anggota kelompok (Burn,2004). Komunikasi sangat penting bagi kelompok karena anggota kelompok dengan perannya masing-masing perlu berkoordinasi untuk mencapai tujuan kelompok.Oleh karena itu, komunikasi juga bisa dianggap bagian dari struktur kelompok.
      Komunikasi di dalam kelompok biasanya membentuk jejaring yang menentukan siapa berkoordinasi dengan siapa. Jejaring komunikasi bisa terpusat (centralized) atau tersebar (decentralized). Jejaring komunikasi terpusat terbentuk ketika anggota kelompok harus menghubungi seorang tokoh sentral untuk berkomunikasi dengan anggota lain.Sedangkan jejaring komunikasi tersebar terbentuk ketika informasi mengalir di antara anggota kelompok tanpa harus melalui tokoh sentral.
                  Komunikasi juga bisa berbentuk secara formal dan informal.Jejaring komunikasi formal dirancang dan disediakan oleh kelompok,seperti memo internal dan rapat mingguan.Sementara jejaring komunikasi informal adalah jejaring komunikasi yang tidak resmi,seperti grapevine(saluran tempat berlalu-lalang gosip,rumor dan informasi tidak resmi lainnya).

d)     Norma
Norma adalah peraturan dalam kelompok yang mengindikasikan bagaimana anggota keompok harus atau tidak harus bersikap. (Baron, 2008) Berdasarkan definisi diatas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan norma adalah aturan yang disepakati bersama tentang apa yang seharusnya dan tidak seharusnya dilakukan oleh anggota kelompok. Norma sangat penting bagi kelompok karena ia mengatur bagaimana anggota kelompok bertindak. Norma adalah hal pertama yang dibutuhkan oleh sebuah kelompok baru. Tanpa norma, kelompok akan sulit bekerja untuk mencapai tujuannya. Ada dua bentuk norma yaitu formal dan non formal.
Norma memiliki beberapa fungsi (Burn,2004), yaitu:
1.      Mengatur tingkah laku anggota kelompok sehingga kelompok dapat berfungsi secara efisien dalam mencapai tujuan.
2.      Mengurangi ketidakpastian karena individu tahu apa yang diharapkan dari dirinya didalam kelompok.
3.      Membedakan kelompok dengan kelompok lain, termasuk anggota kelompok dengan non anggota, sehingga memudahkan terbentuknya identitas kelompok.

e)      Kohesivitas kelompok
Kohesivitas kelompok adalah semua kekuatan (faktor) yang menyebabkan anggota grup tetap berada dalam grup tersebut. (Baron, 2008). Berdasarkan definisi diatas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan kohesivitas kelompok adalah faktor-faktor yang dimiliki kelompok yang membuat anggota kelompok tetap menjadi anggota sehingga terbentuklah kelompok.
f)       Sosialisasi Kelompok
Sosialisasi kelompok adalah bagaimana kelompok berubah dari waktu ke waktu karena anggotanya berinteraksi sehingga terjadi perubahan struktur hubungan dan peran di dalam kelompok.
Ada berbagai model sosialisasi kelompok (Burn, 2004).Salah satunya adalah Model Perkembangan Kelompok Dasar dari Tuckman (1965).Model ini meliputi hal-hal berikut.
1.      Forming (orientasi). Ini adalah tahap pertama, kelompok baru terbentuk, partisipasi anggota kelompok masih sedikit dan bergantung pda pemimpin atau  peraturan yang umum.
2.      Storming (konflik). Ini merupakan tahap kedua, anggota kelompok tidak sependapat tentang apa yang harus dilakukan dan bagaimana peran pemimpin didalam kelompok. Disini terjadi diskusi dan perdebatan antar anggota sambil saling menilai satu sama lain.
3.      Norming (struktur). Pada tahap ketiga ini mulai ada kohesi kelompok serta terbentuk struktur, peran, dan ke-kita-an. Disini juga ditentukan tata cara, norma, aturan, hak dan kewajiban yang akan dijadikan rujukan.
4.      Performing (bekerja). Pada tahap ini anggota kelompok terfokus untuk menyelesaikan tugas dan mencapai tujuan kelompok.
5.      Adjourning (bubar). Ini adalah tahap terakhir, anggota kelompok mulai melepaskan diri dari kegiatan sosial, emosional, dan tugas kelompok.
Secara ringkas, komponen penting didalam kelompok yaitu peran, status, komunikasi, kohesivitas, norma, dan sosialisasi kelompok, mempengaruhi bgaimana individu bertingkah laku didalam kelompok.

Definisi Atraksi Sosial dalam Ruang Lingkup Psikologi


1.      Pengertian Atraksi Interpersonal
Atraksi interpersonal adalah kesukaan pada orang lain, sikap positif dan daya tarik seseorang. Makin tertarik kita dengan orang lain maka semakin besar kecenderungan kita berkomunikasi dengan orang lain.
Dean C. Barlund ahli komunikasi interpersonal (1968:71) “mengetahui aris-garis atrakso dan penghindaran dalam sistem sosial artinya mampu meramalkan dari mana pesan akan muncul, kepada siapa pesan itu akan mengalir, dan lebih-lebih lagi bagaiman pesan akan diterima” (dalam jalaudiin 2011). Yang dengan sederhana dapat diartikan sebagai berikut, dengan mengetahui  siapa tertarik dengan siapa atau siapa menghindar siapa. Kita dapat meramalkan arus komunikasi interpersonal yang akan terjadi.
Menurut jalaludin rachmat 2011 menyatakan bahwa kesukaan pada orang lain, sikap positif dan daya tarik seseorang disebut sebagai atraksi interpersonal. Semakin kita memiliki kesukaan terhadap orang maka semakin sering kita berkomunikasi dengan orang tersbut.
Menurut bahasa artaksi berasal dari bahasa latin “attrahere (att: menuju) dan “thahere”: menarik. Jadi atraksi interpersonal  adalah kesukaan pada seseorang, sikap positif, dan daya tarik seseorang. Atraksi berkaitan dengan daya tarik dalam komunikasi yang dapat mendasari hubungan interpersonal.
Proses atraksi interpersonal dapat berupa afiliasi yaitu kecenderungan untuk bergabung dengan jenisnya sendiri dan daya tarik (atraksi) yaitu kecenderungan individu terhadap teman dengan spesifikasi tertentu.
2.      Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Atraksi Interpersonal
Pentinganya atraksi interpersonal hingga akan bagusnya kita mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan atraksi interpersonal, apa yang membuat kita suka dengannya atau sikap positif kita terhadap oranglain. Menurut jalaluddin menyebar faktor-faktor yang mempengaruhi atraksi interpersonal menjadi dua, meliputi faktor personal dan faktor situasional.
1.      Faktor Personal, meliputi
a.       Kesamaan karakteristik personal, orang yang memiliki kesamaan dalam nilai-nilai, sikap, keyakinan, tingkat sosioekonomi, agama, ideologis, cenderung seling menyukai. Asas kesamaan ini pada kenyataan bukanlah satu-satunya determinan atraksi, atraksi interpersonal akhirnya merupakan gabungan dari efek keseluruhan interaksi di antara individu. Walaupun begitu, bagi komunikator lebih tepat untuk memulai komunikasi dengan mencari kesamaan di antara semua peserta komuniasi.
b.      Tekanan emosional (stress), bila  orang berada dalam keadaan yang mencemaskan atau harus memikul tekanan emosional, ia akan menginginkan kehadiran orang lain. Dari kesimpulan penelitian Schacter menyimpulakn bahwa situasi penimbul cemas (anxiety producing situasion) menningkatkan kebutuhan akan kasih sayang.
c.       Harga diri yang rendah, didapatkan dari penelitian eksperimen oleh elaine Walster dalam buku jalaudin 2011 menyatakan bahw bila harga diri direndahkan, hasrat afiliasi bertambah,dan ia makin responsif untuk menerima kasih sayang orang lain.
d.      Isolasi sosial, adalah pengalaman yang tidak enak. Beberapa peneliti telah menunjukkan bahwa tingkat isolasi sosial amat besar pengaruhnya terhadap kesukaan kita pada orang lain. Bagi orang yang terisolasi kehadiran manusia merupakan kebahagiaan. Karena manusia cenderung menyukai orang yang mendatangkan kebahagiaan maka dalam konteks isolasi sosial, kecenderungannya untuk menyenangi orang lain bertambah.
2.      Faktor-Faktor Situasional
a.       Daya tarik fisik, beberapa penelitian telah mengungkapkan bahwa daya tarik fisik sering menjadi penyebab utama terjadinya atraksi personal.kita akan senang dengan orang-orang yang cantik dan tampan. Mereka pada gilirannya sangat mudah memperoleh simpati dan perhatian orang.
b.      Ganjaran, kita menyenangi kepada orang-orang yang memberikan ganjaran kepada kita, ganjaran disini dapat berupa bantuan, dorongan moral, pujian, atau hal-hal yang meningkatkan harga diri kita.
c.       Familiarity, artinya sering kita lihat atau sudah kita kenal dengan baik. Jika kita sering berjumpa dengan seseorang –asal tidak ada hal-hal alin- kita akan menyukainya.
d.      Kedekatan, orang cenderung akan menyenangi mereka yang tempat tinggalnya berdekatan.
e.       Kemampuan, kita cenderung menyukai seseorang yang meiliki kemampuan lebih atas dari kita, atau lebih berhasil dalam hidupnya.
3. Pengaruh Atraksi Interpersonal pada Komunikasi Interpersonal.
              Atraksi interpersonal mempengaruhi hubungan interpersonal, pengaruh-pengaruh dari atraksi interpersonal dapat di ketahui , meliputi :
1.      Penafsiran pesan dan penilaian
Telah diketahui bahwasanya penilaian seseorang terhadap orang lain tidak dapat dinyatakan semata-mata bersifat rasional ataupun objektif. Sebab didalam keobjektifan seseorang pastilah ada  ke subjektifan orang tersebut. Jadi, ketika kita menyenangi seseorang maka penialaian yang muncul pada seseorang tersebut cenderng bersifat positif, sedangkan jika kita membenci seseorang kita cenderung melihat karakteristik orang tersbut secara negatif.
Jalaudin 2011 menjelaskan bahwa komunikator yang dipandang menarik karena adanya kesamaan, kedekatan, dan daya tarik fisik lebih efektif dalam mempengaruhi perubahan pendapat dan sikap. Atraksi bukan hanya mengenai keputusan kita terhadap penialain bidang politik melainkan juga memnentukan pola komunikasi interpersonal.
Lihat bagaimana orang tampan dan orang cantik dinilai orang . berikut hasil eksperimen para ahli
Tabel. 1
Efek Atraksi Interpersonal pada Keputusan Interpersonal
Corak keputusan
Efek Atraksi
Peneliti
Memilih anggota kelompok bekerja
Lebih cendrung dipilih walaupun ada orang lain yang lebih tepat
Castore dan De Ninno
(1976)
Memperkerjakan asisen peneliti
Lebi cenderung di pekerjakan dan disarankan dapat upah lebih besar
Griffit dan Jackson (1970)
Menilai suami istri yang ingin mengadopsi bayi
Lebih cenderung dinilai sebagai orang tua adoptif yang tepat
Aves dan Byrne (1976)
Menyetujui pinjaman dari bank
Lebih cenderung disetujui
Sung (1975)
Menilai terdakwa dalam pengadilan
Lebih cenderung dinilai tidak bersalah, dan jika salah divonis dengan ringan
Griffit dan Jackson (1973)
Menentukan kualifikasi konselor psikologi (pembimbing)
lebih cenderung dianggap lebih simpatik, penuh pengertian, dan efektif
Good and Good (1972)
Menilai prestasi kerja
Lebih cenderung dinilai telah bekerja dengan baik
Smith, meadow dan Sisk (1970)

2.      Efektifitas Komunikasi
Komunikasi interpersonal dikatakan sebagai komunikasi yang efektif apabila dalam komunikasi tersebut menyenangka. Ketika kita diadapkan dalam sebuah kelompok dengan individu-individu yang kita sukai maka dapat diprediksikan alur komunikasi yang berlangsung akan menjadi komunikasi yang efektif. Berkeumpul dengan orang-orang yang kita sukai atau senangni membuat kita santai, terbuka dan gembira sehingga kita betah berlama-lama dalam berkomunikasi.sebaliknya apabila kita bertemu atau berkumpul dengan orang yang tidak kita sukai maka yang terjadi kita akan merasa tegang, tidak enak dan resah. Kita akan cenderung menutup diri dan menghindari komunikasi. Wolosin 1975 menyatakan bahwa komunikasi  akan lebih efektif bila para komunikasi saling menyukai. Sehingga dapat disimpulkan bahwa komunikasi yang efektif adalah komunikasi yangg mana terdapat atrakti interpersonal di dalamnya yang artinya santara komunikator dan komunikan memiliki rasa sling suka satu dengan yang lainnya.

TEORILINKING
Ada empat teori yang menjelaskan mengapa kita menyukai orang lain:
1.ReinforcementTheory
Teori ini menjelaskan bahwa seseorang menyuaki dan tidak menyukai orang lain adalah sebagai hasil belajar (learning). Dalam hal ini ada tiga unsur learning, yaitu asosiatif, instrumental,dansosial.
 BelajarAsosiatif:
Ø
kita menyenangi dan tidak menyenangi seseorang berdasarkan pengalaman kita dan stimuli yang kita asosiasikan dengan hal itu. Kita menyukai orang yang kita asosiasikan dengan pengalamanyangmenyenangkan.
 BelajarInstrumental:
Ø
Kita menyukai orang yang memberikan iimbalan (reward) pada kita dan tidak menyuaki orangyangmemberikanhukuman.
 BelajarSosial:
Ø
Kita cenderung lebih menyukai orang-orang yang kita lihat disukai oleh orang lain atau oleh lingkungansosialdansebaliknya.

2.Equitytheory
Teori ini mengatakan bahwa individu selalu cenderung menjaga keseimbangan antara apa yang mereka berikan dan apa yang mereka dapatkan, atau antara cost dan reward. Jika kita berharap banyak dari suatu hubungan maka kita juga harus menyumbang banyak untuk hubungantersebut.

3.Exchangetheory
Menurut teori ini, interaksi sosial adalah semacam transaksi dagang. Orang berhubungan deng orang lain untuk memenuhi kebutuhannya. Semakin banyak keuntungan yang diperoleh makahubungantersebutakanterusdilangsungkan.

4.Gain-losstheory
Kita lebih menyukai orang yang menguntungkan kita daripada yang merugikan bagi kita