Showing posts with label psikologi kesehatan. Show all posts
Showing posts with label psikologi kesehatan. Show all posts

Friday, May 10, 2019

Penyebab dan Proses Terjadi Lupa


Lupa adalah hal yang pasti di alami setiap orang. Mungkin lupa adalah kekurangan yang dimiliki oleh kemampuan daya ingat manusia. Hal ini juga yang menunjukkan bahwa setiap orang memiliki kemampuan daya ingat yang berbeda-beda. Seringkali memang, lupa menjadi sesuatu yang tidak menyenangkan, saat sedang dibutuhkan informasi penting sementara ingatan gagal memunculkanya kembali. Bahkan pada orang-orang tertentu menganggap lupa adalah semacam penyakit, dari lupa yang biasa sampai lupa yang terlalu sering. 
Lupa berdasarkan gambaran orang awam adalah proses terjadinya hilangnya informasi yang telah didapat ketika akan dimunculkan kembali. Memang benar, seperti yang sudah di jelaskan di paragraf sebelumnya, lupa  adalah gagalnya memunculkan kembali informasi – informasi sebelumnya. Atau gagalnya informasi bertahan lama dalam ingatan orang tersebut.
Kita bisa lupa akan sesuatu dari ingatan karena sejumlah sebab. Di antaranya adalah          :
1.      Decay
Decay (secara harfiah berarti “pembusukan”) adalah memudarnya memori seiring berlalunya waktu atau akibat jarang digunakannya memori tersebut. Decay dapat terjadi di STM. Decay  dapat pula terjadi di LTM, yakni saat informasi yang tidak diakses memudar secara alami. Eksperimen Ebbinghaus yang telah disebutkan sebelumnya adalah contoh decay.
2. Adanya penumpukan ingatan (Interferensi Theory)
Inferensi (interference) adalah bercampur-baurnya memori-memori yang serupa. Interferensi retroaktif (retroactive interference) terjadi ketika memori-memori baru menghambat pengambilan memori-memori lama (retro = lama, tempo dulu- memori-memori lama dihambat). Interferensi proaktif (proactive interference) terjadi saat memori-memori lama menghambat pengambilan memori-memori baru (pro = baru- memori-memori baru dihambat).
2.      Represi
Represi (repression) adalah tindakan mendorong pemikiran-pemikiran, memori-memori, atau perasaan-perasaan yang mengancam keluar dari kesadaran. Konsep asli Freud tentang represi menyatakan bahwa represi dilakukan secara tidak sadar untuk melindungi ego. Freud mendalilkan bahwa mimpi, hypnosis, dan asosiasi bebas adalah sarana untuk mengungkap memori-memori tersebut. Memori-memori yang ditekan (direpres) adalah memori yang disingkirkan seseorang dari kesadarannya, terutama menyangkut memorin yang menyakitkan, seperti pelecehan seksual semasa kanak-kanak. Memori-memori tersebut dapat dibawa ke kesadaran melalui psikoterapi. Represi bukanlah suatu proses yang sadar (berbeda dengan kelupaan yang disengaja). Memori-memori yang berhasil diungkap kembali umumnya bersifat mendetail, padahal peristiwa itu (bila sungguh-sungguh terjadi) berlangsung dalam kondisi traumatic yang penuh tekanan, sedemikian menekannya sehingg selama bertahun-tahun memori tersebut dilupakan. (Hal tersebut bertentangan dengan asas penyandian peristiwa).
3.      Ketergantungan pengambilan (Retrieval Failure)
Kegagalan pengambilan (retrieval failure) adalah ketidakmampuan menemukan isyarat memori (memory cue) yang diperlukan bagi pengambilan memori tersebut. Kondisi ini dapat bersifat temporer, namun dalam kasus-kasus tertentu dapat bersifat jangka panjang. Prinsip kekhasan penyandian (encoding specificity principle) (Tulving & Thompson, 1973) menyatakan bahwa operasi-operasi penyandian yang spesifik akan menentukan jenis jejak memori (memoori trace) yang disimpan. Jenis jejak memori menentukan jenis isyarat pengambilan (retrieval cue) yang memiliki kemungkinan berhasil dalam meraih akses ke jejak memori tersebut. Kegagalan pengambilan (retrieval failure) memiliki problematika tersendiri karena sulit dibedakan dengan decay dan kegagalan penyandian. Hal ini sungguh-sungguh problematic terutama bagi orang-orang yang berusaha mengakses suatu memori secara akurat. Upaya mengungkap suatu memori yang sesungguhnya tidak eksis (akibat decay maupun kegagalan penyandian) dapat menyebabkan timbulnya memori palsu (false memory).
4.      Penyaringan
Pada proses terjadinya ingatan, informasi yang masuk tidak serta merta disimpan, melainkan melewati proses penyaringan atau penyeleksian. Pada saat penyaringan ini banyak kesan-kesan yang hilang, menyisakan informasi-informasi yang dianggap penting saja. Proses penyaringan itu menjaga kesanggupan mengingat agar tidak berat. Yang terpilih dari kesan-kesan itu hanya bagian yang relevan saja untuk diolah. Kesan-kesan yang telah disaring itu kemudian baru masuk ke dalam tempat simpanan jangka panjang.
Proses penyaringan ini kemudian di satu sisi mengakibatkan orang menjadi lupa atau gagal mengingat kembali informasi yang masuk ke dalam ingatan jangka pendek tadi karena mungkin sudah tereliminasi oleh ingatan yang lain.

5.      Kegagalan konsolidasi (consolidation failure)
Kegagalan konsolidasi (consolidation failure) adalah hilangnya memori akibat gangguan organic yang terjadi saat pembentukan jejak memori (memory trace), yang berakibat pada terbentuknya memori-memori yang tidak sempurna, yang bagi individu yang bersangkutan dirasakan sebagai “kelupaan”. Dalam kegagalan konsolidasi, STM bekerja dengan normal namun gangguan terjadi pada proses perpindahan informasi dari STM ke LTM.
6.      Kegagalan penyandian  (failure to encode)
Kegagalan penyandian  (failure to encode) yaitu keadaan jika informasi tidak memasuki otak kita  melalui reseptor-reseptor sensorik akibat pengaruh system atensi, akibatnya tidak ada informasi yang dapat diingat dan mengacu pada kegagalan memasukkan materi ke dalam LTM. Faktor lain yang dapat mempengaruhi kegagalan penyandian adalah faktor stress. Hokum Yerkes-Dodson (Yerkes & Dodson, 1908) mendalilkan bahwa tingkat arousal  yang sangat rendah atau sangat tinggi menghambat kinerja memori dan proses-proses kognitif yang lain. Ketika tingkat arousal sedemikian kuatnya, hal tersebut menyebabkan kelupaan karena memori yang disimpan mungkin hanya berupa bagian emosional dari pengalaman tersebut, tanpa detail yang jelas (Metcalf, 1998).
7.      Gangguan Fisiologis
Penyebab lupa selanjutnya adalah karena adanya gangguan fisiologis pada sesorang. Salah satu gangguan fisiologis yang mungkin terjadi adalah Amnesia. 
Amnesia adalah sejenis kelupaan yang terjadi akibat adanya problem di otak. Amnesia dapat disebabkan oleh penyakit (seperti Alzheimer dan sindrom Korsakoff), dan dapat pula diakibatkan oleh cedera traumatic di otak (traumatic brain injury). Penyakit Alzheimer menyebabkan problem-problem memori, dan sebuah penelitian modern mengindikasikan bahwa Alzheimer kemungkinan disebabkan oleh molekul-molekul protein yang melekat secara berlebihan di glumatate, yang selanjutnya menghambat fungsi glumatate sebagai pengaktif proses-proses memori di otak (Hoe dkk., 2006). Sindrom Korsakoff menyebabkan problem-problem memori sebagai akibat dari defisiansi serius Vitamin B1. Seorang individu dengan riwayat alkhoholisme yang ekstrem dan panjang seringkali tidak mengkonsumsi cukup makanan yang bisa memenuhi kebutuhan vitaminnya. Akibatnya terjadilah kerusakan di otak karena sel-sel otak tidak dapat memproses glukosa (yang penting untuk bertahan hidup) tanpa vitamin B1. Para penderita sindrom Korsakoff mengalami kehilangan memori tentang peristiwa-peristiwa tertentu, dan sering kali menyadari bahwa mereka memiliki masalah memori. Mereka sering melakukan konfabulasi (confabulate) yakni membentuk sendiri detail-detail yang hilang (yang tidak mampu mereka ingat) dari memori mereka.

Definisi sikap Berdasarkan Ilmu Psikologi


A.   Pengertian sikap
Pada permulaan abad ke-20, sikap merupakan konsep yang menjadi perhatian utama dalam psikologi sosial, sehingga ada yang menganggap bahwa psikologi sosial adalah bidang studi psikologi yang mempelajari sikap (Thomas dan Zaniecki, 1918, Watson, 1930 dalam Voughn dan Hoog, 2002). Sikap berasal dari kata latin “aptus” yang berarti dalam keadaan sehat dan siap melakukan aksi/tindakan, secara harfiah sikap dapandang sebagai kesiapan raga yang yang dapat diamati.
Menurut Allport sikap merupakan kesiapan mental yaitu suatu proses yang berlangsung dalam seseorang bersama dengan pengalaman individual masing-masing mengarahkan dan menentukan respons terhadap berbagai objek dan situasi. Ada beberapa definisi sikap menurut para ahli diantaranya :
1.    Reaksi evaluative yang disukai atau tidak disukai terhadap sesuatu atau seseorang menunjukan kepercayaan,perasaan atau kecenderungan perilaku seseorang (Zanna dan Rempel 1998)
2.    Sikap adalah tendensi psikologis yang diekspresikan dengan mengevaluasi entitas tertentu dengan beberapa derajat kesukaan atau ketidaksukaan (Eagly dan Chaiken 1993)
3.    Evaluasi terhadap beberapa aspek perkataan sosial (Baron dan Byrne 2006)
Berdasarkan betasan-batasan tersebut dapat disimpulkan bahwa sikap adalah suatu proses penilaian yang dilakukan seseorang terhadap suatu objek.
Sikap adalah konsep yand dibentuk pleh tiga komponen yaitu,kognitif, afektif, dan perilaku. Komponen kognitif berisi semua pemikiran serta ide-ide yang berkenaan dengan objek sikap.pemikiran seseorang meliputi hal-hal yang diketahuinya sekitar objek sikap, dapat berupa tanggapan atau keyakinan, kesan, atribusi dan penilaian tentang objek sikap tadi.
Komponen afektif dari sikap meliputi perasaan atau emosi seseorang terhadap objek sikap. Adanya komponen afeksi dari sikap, dapat deketahui melaui perasaan suka atau tidak suka,senang atau tidak senang terhadap objek sikap. Isi perasaan atau emosi pada penilaian seseorang terhadap objek sikap inilah yang mewarnaii sikap menjadi suatu dorongan atau kekuatan.
Komponen perilaku dapat diketahui melalui respons subjek yang berkenaan dengan objek sikap. Respons yang dimaksud dapat berupa tindakan atau perbuatan yang dapat diamati dan dapat berupa intensi atau niat untuk melakukan perbuatan tertentu sehubungan dengan objek sikap. Intensimerupakan predisposisi atau kesiapan untuk bertinndak terhadap objek sikap.jika orang mengenali dan memiliki pengetahuan yang luas tentang suatu objek sikap yang disertai dengan perasaan positif mengenai kognisinya, maka ia akan cenderung mendekati (approach) objek sikap tersebut misalnya dengan memperlihatkan dukungan, memberi bantuan, dan menjadi tim sukses bagi tokoh partai yang disukainya.
Ketiga komponen sikap menciptakan nuansa tertentu yang dapat menjelaskan perbedaan sikap orang-orang terhadap objek sikap yang sama. Begitu pula sikap orang tua sering berbeda dapam menghadapi anak-anaknya.

B.   Pembentukan sikap
Sikap manusia bukan sesuatu yang didapat sejak lahir namun diperoleh melalui proses pembelajaran yag sejalan dengan perkembangan hidupnya. Sikap dibentuk melalui empat macam pembelajaran yaitu:
1.    Pengkondisian klasik (classical conditioning : learning bassed on association)
Proses pembelajaran dapat terjadi ketika suatu stimulus selalu diikuti oleh stimulus yang lain, sehingga rangsang yang pertama menjadi suatu isyarat bagi rangsang yang kedua. Lama-kelamaan, orang akan belajar jika stimulus perrtama muncul maka akan diikuti oleh stimulus lain.
2.    Pengkondisian instrumental (instrumental conditioning)
Proses pembelajaran terjadi ketika sesuatu perilaku mendatangkan hasil yang menyenangkan bagi seseorang maka erilaku tersebuut akan diulang kembali. Contoh seorang anak mendapat senyuman dari ibunya ketika ia membuang sampah ke keranjang sampah. Anak belajar melalui pengkondisian instrumental, sehingga ketika dewasa akan terbentuk sikap positif terhadap benda-benda yang digolongkan menjadi sampah. Hal itu tampak melalui dalam perilakunya yang membuan gsampah selaluu dalam tempat yang tersedia
3.    Belajar melalui pengamatan (observational learning, learning by example)
Proses pembelajaran dengan cara mengamati perilaku orang lain, kemudian dijadikan sebagai contoh untuk berperilaku serupa. Banyak perilaku yang dilakukan seseorang hanya karena mengamati perbuatan orang lain. Menurut A.Gunther (1995) seseorang cenderung memberi penilaian berlebih terhadap orang lain terkait penyiaran pornografi dan adegan kekerasan di media massa, sebaliknya terhadap dirinya sendiri ia menilai tidak mudah dipengaruhi.
4.    Perbandingan sosial (social comparasion)
Proses pembelajaran dengan membanddingkan orang lain untuk meenecek apah pandangan kita mengenai suatu hal adalah benar atau salah merupakan perbandingan sosial. Kita cenderung menyamakan diri kita dengan mengambil ide-ide dan sikap-sikap mereka.misalnya sikap positif terhadap parpol tertentu dapat terbentuk walauppun kita tidak mengenal langsung satu orangpun dalam parpol tersebut.

C.   Fungsi Sikap
Menurut Baron, Byrne, dan Branscombe (2006) terdapat lima fungsi sikap sebagai berikut:
1.    Fungsi Pengetahuan
Sikap membantu kita untuk menginterpretasikan stimulus baru dan menampilkan respons yang sesuai. Contohnya anak-anak diajari agar waspada sehingga ia mengadopsi sikap dari orang tuanya agar tidak cepat percaya dan langsung menyukai orang asing yang baru dikenal.
2.    Fungsi Identitas
Sikap terhadap kebangsaan indonesia (nasionalis) yang dinilai tinggi ekspresikan nilai dan keyakinan serta mengkomunikasikan sikap. Contohnya dalam acara di luar negeri orang indonesia memilih memakai pakain nasional seperti batik dan kebaya untuk menunjukkan identitas sebagai bangsa indonesia.
3.    Fungsi Harga Diri
Sikap yang dimiliki mampu menjaga atau meningkatkan harga diri Mahasiswa Uniersitas Negeri Semarang (UNNES) bangga memakai jaket kuning. Contohnya sikap patuh terhadap aturan-aturan protokoler pada acara-acara resmi, bertujuan agar tidak berperilaku menyimpang untuk menjaga harga diri didepan umum.
4.    Fungsi Pertahanan Diri
Sikap berfungsi melindungi diri dari penilaian negatif tentang diri kita. Contohnya memakai benda bermerk agar tidak dinilai oleh teman-teman arisannya.
5.    Fungsi Memotivasi Kesan (impression motivation)
Sikap berfungsi mengarahkan orang lain untuk memberikan penilaian atau kesan yang positif tentang diri kita. Contohnya memelihara jenggot dan memakai baju koko agar dianggap orang alim.

Thursday, May 9, 2019

Sejarah Perkembangan Psikologi Kesehatan


A.    Perkembangan Psikologi Kesehatan

Pada awal abad ke-20, pemahaman tentang kesehatan didominasi oleh pandangan dari perspektif biologis medis, dimana kesehatan di definisikan sebagai sebuah keadaan dimana tidak adanya penyakit. Kemudian berkembang pandangan dari biopsikososial yang menekankan peran sosial-budaya dalam membentuk kesehatan atau menimbulkan sebuah penyakit. Sebagaimana definisi kesehatan menurut WHO (World health organization) pada tahun 1948 mendefinisikan kesehatan sebagai keadaan lengkap dari fisik, mental dan sosial serta kesejahteraan dan bukan hanya bebas dari penyakit atau kelemahan. Defenisi ini  meminta perhatian terhadap kompleksitas dan multidimensionalitas konsep dari kesehatan. Menambahkan kesejahteraan sosial pada definisi itu membuka jalan untuk konseptualisasi individu sebagai makhluk sosial dalam definisi kesehatan bukan hanya dari aspek fisik/biologi/fisiologi semata.
Pergeseran dari definisi ini, juga berimbas pada ilmu psikologi, yang sebelumnya hanya menganalisis penyakit dan gangguan psikologis, menjadi analisis individu untuk mencapai kesejahteraan seperti promosi-promosi kesehatan. Sebelumnya, ilmu psikologi dikenal sebagai psikologi negatif (psikologi orang sakit), dengan definisi ini berubah dan menjadikan psikologis sebagai sarana keilmuan memanusiakan manusia (mencapai kesejahteraan). Kita mengetahui bahwa perkembangan ilmu psikologi dimulai dari teori psikoanalisia, behavioristic, humanistic, dan sekarang sedang berkembangan indigenous psychology yang menekankan pentingnya dan besarnya pengaruh budaya setempat terhadap tingkah laku seseorang.
Perkembangan terbaru dari pendekatan ini memandang kesehatan sebagai sebuah jaringan yang kompleks yang sangat di pengaruhi oleh sosial-budaya. Bisa saja sebuah budaya memandang sebuah perilaku itu adalah penyimpangan, tetapi pada budaya lain, itu adalah hal yang normal.
Memasukkan budaya dan psikologi ke dalam terapan ilmu kesehatan sangat penting. Misalnya, dalam promosi kesehatan, preventif, keratif, rehabilitasi, tidak mungkin mengesampingkan budaya setempat. Bahkan beberapa budaya terdapat berbagai penyakit yang memang khas budaya tersebut, yang hanya bisa dipahami, jika kita memasukkan konsep budaya dalam penangan penyakit tersebut. Misalnya beberapa penyakit yang memiliki kecenderungan mendapat pengaruh budaya seperti Hikokomori (lazim di Jepang) dan anoreksia (lazim dalam masyarakat barat). Memahami alasan yang mendasari hal ini, cara pencegahan dan pengobatan yang efektif untuk penyakit seperti ini akan memerlukan pendekatan budaya.

B.     Definisi
Psikologi kesehatan adalah salah satu bagian dari psikologi klinisi yang dikenal dengan istilah “Medical Psychology”, dan sekarang selalu dikaitkan dengan Behavioral Medicine. Dasar pemikiran Psikologi Kesehtan adalah adanya hubungn antara pikiran manusia (mind) dan tubuhnya. Definisi Behavioral Medicine adalah integrasi dari ilmu perilaku dengan praktik dan ilmu kedokteran ( Miller dalam Ardani, Rahayu, Sholichatun, 2007)
Pada tahun 1980 Joseph Matarazzo (dalam Ardani, Rahayu, Sholichatun, 2007) mendefinisikn psikologi kesehatan sebagai berikut :

“….the aggregate of the specific educational, scientific and professional contributions of the discipline of psychology to the promotion and maintenance of the health, the prevention of illness, the identification of etiologic and diagnostic correlates of health, illness and related dysfunction, and the analysis and improvement of the health care system and health policy formation.”

Psikologi kesehatan adalah penggabungan dari pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kontribusi praktisi untuk promosi dan pemeliharaan kesehatan, pencegahan dan pengobatan penyakit, dan mengidentifikasi etiologi dan diagnosis yang berkorelasi terhadap kesehatan, penyakit dan disfungsi.
Definisi psikologi kesehatan ini mencakup hal-hal sebagai berikut :
1.      Psikologi kesehatan menyangkut bagian khusus dari bidang ilmu psikologi yang memfokuskan pada studi perilaku yang memiliki kaitan dengan kesehatan dan penerapan kesehatan ini.
2.      Penekanan pada perilaku yang normal di dalam mempromosikan kesehatan (promosi kesehatan dan pencegahan dasar) pada level mikro, meso, makro dan menyembuhka penyimpangan kesehatan.
3.      Banyak bidang psikologi yang berbeda dapat memberikan sumbangan kepada bidang psikologi kesehatan.

C.    Peran Psikologi Dalam Bidang Kesehatan
Fokus pekerjaan praktisi psikologi kesehatan saling beriringan dengan bidang ilmu kesehatan yang lain, misalnya saja dengan ilmu kedokteran, ilmu kesehatan masyarakat, ilmu fisio terapi, juga ilmu keperawatan dan farmasi. Sejauh ini, pendekatan medis dengan dasar biologis memang telah menunjukkan manfaat yang sangat besar dalam dunia kesehatan manusia, misalnya berhasil menaklukkan penyakit endemik (cth: polio, TBC, malaria) atau mengembangkan antibiotik maupun vaksin-vaksin pencegah penyakit. Meskipun demikian, para praktisi kesehatan tidak dapat mengenyampingkan fakta bahwa di luar kecanggihan alat-alat kedokteran maupun perkembangan obat-obatan dan metode penanganan penyakit terbaru, faktor individu atau ke-khas-an dari “person” yang mengalami segala proses yang menyangkut perubahan status kesehatan mereka adalah penentu utama dari efektifnya penerapan metode maupun alat-alat canggih tersebut dalam meningkatkan kesehatan maupun kesejahteraan hidup manusia itu sendiri.
Beberapa faktor yang berhubungan erat dengan kondisi kesehatan antara lain seperti kecenderungan individu untuk memiliki gaya hidup tertentu (lifestyle) maupun memiliki kepribadian tertentu. Praktisi psikologi kesehatan menaruh perhatian pada bagaimana gaya hidup tertentu dapat menjadi faktor risiko (risk factor) kemunculan suatu penyakit. Faktor risiko adalah karakteristik atau kondisi tertentu yang berhubungan dengan kemunculan suatu penyakit, namun belum tentu berperan sebagai penyebab langsung dari kemunculan penyakit tersebut. Meskipun faktor risiko bisa saja merupakan keadaan yang sifatnya genetis maupun biologis, gaya hidup bisa menjadi faktor psikologis (dan sosial) yang juga menjadi salah satu diantaranya.
Selain gaya hidup, penelitian-penelitian dalam psikologi kesehatan juga telah berhasil menunjukkan bahwa tipe kepribadian tertentu berhubungan dengan kondisi kesehatan individu. Sebagai contoh, tipe kepribadian yang mencakup kecemasan yang tinggi, depresi, kemarahan dan kekerasan, atau pesimisme umumnya menjadi faktor risiko yang sering dihubungkan dengan penyakit jantung. Emosi-emosi yang muncul saat individu mengalami stres juga dapat menjadi faktor risiko yang berhubungan dengan kondisi kesehatan mereka serta sejauh mana mereka berhasil pulih dari suatu penyakit. Hubungan antara kepribadian individu dan kondisi kesehatannya bukanlah hubungan sebab-akibat satu arah. Kondisi kesehatan individu juga dapat berpengaruh terhadap kepribadiannya, dimana individu yang mengalami penyakit bisa saja mengalami emosi negatif yang jika terus menerus terjadi tanpa penanganan bisa saja mengubah kepribadian individu tersebut, menjadi lebih pesimis atau justru menjadi seseorang yang lebih tangguh. Oleh sebab itu, peran praktisi psikologi kesehatan di sini sangat penting untuk membantu individu melakukan penyesuaian diri terhadap status kesehatannya berdasarkan cara yang paling efektif bila dilihat dari tipe kepribadiannya, misalnya saat membantu penyesuaian diri pasien stroke dan keluarga yang merawatnya.
Hal lain yang juga menjadi fokus para praktisi psikologi kesehatan adalah gejala-gejala penyakit medis yang muncul karena kondisi psikologis seseorang, atau umumnya dikenal dengan istilah ‘psikosomatis’. Kondisi seperti ini bisa dialami oleh siapa saja, seperti saat kita merasa sakit perut yang tidak kunjung selesai walau tidak ditemukan adanya gangguan dalam fungsi pencernaan atau fungsi organ biologis lain. Ternyata setelah diamati lebih lanjut, saat itu kita sedang merasa sangat cemas akan suatu perubahan besar dalam hidup, misalnya seperti pernikahan, baru saja mengalami kehilangan, promosi jabatan dan sebagainya yang tanpa sadari dapat memunculkan gejala penyakit. Apabila sudah menjadi suatu bentuk gangguan, dalam DSM-IV TR (Diagnostic and Statistical Manual) kondisi ini dikelompokkan sebagai gangguan Somatoform.
Salah satu perspektif yang populer dalam psikologi kesehatan adalah biopsikologi, yang mengemukakan bahwa kesehatan atau kesejahteraan fisik individu saling berhubungan erat dengan kesejahteraan mentalnya. Berdasarkan hal tersebut, salah satu pelopor dalam Psikologi Kesehatan, Matarazzo, menggambarkan fungsi Psikologi Kesehatan sebagai kontribusi dari disiplin ilmu psikologi yang didasarkan pada pendekatan ilmiah dan profesional terhadap hal-hal berikut:
1)  Promosi gaya hidup sehat (health promotion), praktisi psikologi kesehatan dapat membantu merancang program promosi maupun edukasi kesehatan yang sesuai bagi masyarakat, baik bagi para siswa maupun orang dewasa. Misalnya seperti kampanye anti rokok, atau kampanye pencegahan HIV Aids dengan menggunakan kondom bekerja sama dengan praktisi kesehatan dari bidang ilmu lain maupun pihak institusi seperti sekolah dan sebagainya. Bahkan praktisi yang bergerak di bidang psikologi kesehatan ini bisa membantu kita untuk menyusun pola hidup sehat yang mencakup diet dan membantu mengubah pola pikir kita soal diet tersebut. Tentunya  bekerja sama dengan praktisi kesehatan lain seperti ahli gizi.
2)   Pencegahan dan perawatan terhadap penyakit, praktisi psikologi kesehatan dapat membantu menyusun program-program pencegahan maupun perawatan terhadap penyakit melalui pendekatan psikologis. Contohnya seperti memperkenalkan metode relaksasi dan pemecahan masalah untuk membantu pasien darah tinggi agar tidak terlalu tegang dalam menghadapi stres sehari-hari, membantu proses penyesuaian dan rehabilitasi bagi pasien stroke seperti menentukan kegiatan yang dapat dilakukan, bagaimana mengatur pola makan, membantu pasien dan keluarga untuk menyalurkan emosi negatif mereka, dan sebagainya
3) Identifikasi penyebab kemunculan penyakit dan diagnosis kondisi kesehatan individu/disfungsi lain, praktisi psikologi kesehatan dapat membantu praktisi kesehatan lain untuk menentukan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kemunculan suatu penyakit dari sisi psikologis, seperti kepribadian pasien, gaya hidup, dan sebagainya seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Praktisi psikologi kesehatan juga dapat membantu sejauh mana individu sesuai dengan metode perawatan tertentu.
4)  Analisis dan peningkatan terhadap sistem perawatan kesehatan dan penyusunan peraturan-peraturan yang berkaitan dengan industri kesehatan (health-policy), praktisi psikologi kesehatan dapat membantu untuk menganalisis sejauh mana fasilitas perawatan kesehatan yang ada, seperti rumah sakit, puskesmas, anggota praktisi kesehatan, biaya perawatan, maupun sistem perawatan kesehatan yang ada dapat berfungsi secara optimal bagi proses perawatan kesehatan masyarakat. Dalam hal ini, praktisi psikologi kesehatan membantu memberikan rekomendasi bagi pembuat kebijakan, memberikan pelatihan-pelatihan terkait kondisi psikologis individu terhadap praktisi kesehatan maupun kader puskesmas, dan sebagainya.

D.    Penerapan Psikologi Sosial pada Tingkah Laku yang Terkait dengan Kesehatan
Menanggapi informasi-informasi yang terkait dengan kesehatan
·         Memahami dan mengevaluasi informasi tentang kesehatan
Jika berita-berita utama di media adalah sumber pengetahuan kita, maka kita akan terus menerus hidup dalam ketakutan terhadap beberapa penyakit, namun secara teratur kita juga menerima berita-berita positif yang mengindikasikan bahwa ilmu kesehatan hampir berhasil dalam mencegah atau menyembuhkan penyakit tersebut.
Sejumlah wacana diatur agar memenuhi dua fungsi sekaligus, yaitu memberikan informasi tentang sebuah wabah baru dan juga memberikan informasi tentang bagaimana kita harus menghadapinya (Fischman, 2001). Kemajuan medis juga tampaknya didukung oleh kenyataan bahwa kini orang-orang memperoleh informasi secara lebih baik, mendapatkan diagnosis dokter secara lebih cepat, dan mengubah kebiasaan-kebiasaan mereka.
·         Menolak Versus Menerima Informasi Tentang Kesehatan
Dalam merespons serangan informasi tentang kesehatan yang bertubi-tubi dari tv, Koran-koran, majalah, internet, dan petugas medis, orang-orang cenderung hanya menerima sebagian saja. Kalaupun mereka menerima informasi-informasi secara sepenuhnya, bukan berarti tingkah laku mereka juga berubah sejalan dengan informasi yang mereka terima.